DONGGALA MEDIA – Donggala sebagai kabupaten di Sulawesi Tengah berdiri pada 12 Agustus 1952 yang di tahun 2027 nanti berusia 75 tahun.
Disisi hitungan usia lain, jika membandingkan dengan Poso sebagai kabupaten ataukah kota pada 1 Maret 2026 ber ultah 131 tahun atau lahir pada 1895.
Sementara Donggala yang memiliki sejarah panjang belum menetapkan hari lahir legendarisnya yang pasti sudah ada juga ratusan tahun lalu.
Apa lagi jika dibandingkan dengan Kota Makassar yang lahir 9 September 1607 atau ber ultah ke 419, tentu makin menambah pertanyaan, kenapa Donggala, katakanlah sebagai kota pelabuhan di masa lalu, belum ada tanggal kelahirannya yang paling tua dari Poso atau lebih muda dari Makassar?
Cerita sejarah Donggala justru semakin kelam pada abad modern yang dimulai pindahnya aktifitas Pelabuhan Donggala ke Pelabuhan Pantoloan pada 1978 dan berdirinya Kota Palu pada 27 September 1999.
Berdasar PP 71/1999 ibu kota Kabupaten Donggala di pindahkan dari Palu ke Donggala atau di Kecamatan Banawa. Proses pemindahan ibu kota Donggala ini dimulai pada masa Bupati Donggala Syahbuddin Labajo yang selanjutnya dijalankan oleh Bupati H. Nabi Bidja dan Wakil Bupati (Wabup) H. Ahmad Abdul Rauf (periode 1999-2004) yang berkantor sementara di bekas gedung Sekolah Tionghoa Kelurahan Boya, Banawa.
Periode berikutnya kepala daerah definitif adalah Bupati Adam Arjad dan Wabup Habir Ponulele (2004-2008), lalu Bupati Habir Ponulele dan Wabup Aly Lasamaulu (2008-2013), kemudian Bupati Kasman Lassa dan Wabup Vera Elena Laruni (2014-2018), selanjutnya Bupati Kasman Lassa dan Wabup Moh. Yasin (2019-2024), terkini Bupati Vera Elena Laruni dan Wabup Taufik M. Burhan.
Sejak Pemkab Donggala dikendalikan dari Gunung Bale, Banawa sekira 27 tahun, cerita tentang kejayaan Donggala di masa lalu, khususnya sebagai kota pelabuhan, juga masih menjadi cerita nostalgia indah diberbagai tempat warung kopi atau di ruang kantor pemerintah, hingga ke pasar.
Tapi sejarah kejayaan Donggala itu, seolah tidak menjadi energi kemajuan bagi generasi Donggala masa kini.
Buktinya tingkat kemiskinan masih tinggi urutan ke dua dari 13 kabupaten kota se Sulteng.
Perputaran ekonomi melambat yang ditandai oleh teriakan para pedagang khususnya di Pasar Ganti.
Belum lagi sulitnya lapangan kerja dan mirisnya nasib P3K yang terancam di rumahkan.
Apakah sejarah kejayaan Donggala sebagai Kota Pelabuhan bisa terulang, yang saat ini berlabel Donggala Kota Wisata?*
(Teks: REDAKSI / Foto: IA)


