Ketika THR Tak Kunjung Datang: Bagaimana Perasaan PPPK Donggala Jalani Lebaran Tanpa Uang Belanja?

DONGGALA MEDIA – Lebaran biasanya datang bersama dua hal yang selalu dinanti: aroma opor di dapur dan notifikasi rekening masuk bertuliskan tiga huruf sederhana yaitu THR.

Tapi bagi sebagian Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Donggala tahun ini, lebaran justru datang dengan perasaan yang berbeda. Bukan soal menu apa yang akan dimasak, melainkan pertanyaan sederhana sekaligus menyakitkan: kalau THR belum ada, mau belanja apa?

Pertanyaan itu muncul setelah beredarnya surat resmi dari Bupati Donggala tertanggal 13 Maret 2026. Surat yang ditandatangani langsung oleh Vera Elena Laruni itu berisi pemberitahuan bahwa pembayaran Tunjangan Hari Raya bagi PPPK di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala sementara waktu belum dapat direalisasikan.

Alasannya klasik, tapi tetap terasa pahit bahwa ketersediaan anggaran dan kemampuan keuangan daerah belum memadai.

Bagi banyak pegawai, THR bukan sekadar tambahan penghasilan tetapi sudah seperti ritual tahunan yang tidak tertulis. Dengan THR, orang mulai menghitung kebutuhan baju anak, bahan kue, amplop untuk keponakan sampai biaya mudik.

Tanpa THR, daftar itu tiba-tiba terasa terlalu panjang.

Bayangkan suasananya.

Di pasar, harga bahan makanan mulai naik seperti tradisi tahunan. Pedagang mulai memutar lagu-lagu religi dari speaker kecil yang menggantung di kios. Orang-orang ramai memilih baju baru. Sementara di sisi lain, ada pegawai yang hanya bisa menghitung saldo rekening sambil berharap ada kabar baik.

Karena ketika orang lain mulai berkata, “THR sudah cair?”, sebagian PPPK di Donggala mungkin hanya bisa menjawab dengan senyum tipis.

Surat yang Mengubah Suasana

Dalam surat bernomor 841/0415/BAG.UMUM/2026 itu dijelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2026 tentang pemberian Tunjangan Hari Raya dan gaji ketiga belas bagi aparatur negara, seharusnya PPPK juga berhak menerima THR.

Namun realitas di daerah tidak selalu berjalan seideal regulasi.

Pemkab Donggala menyampaikan bahwa kondisi keuangan daerah saat ini belum memungkinkan untuk melakukan pembayaran THR bagi PPPK sebagaimana mestinya. Dalam surat itu juga disebutkan bahwa THR baru akan dibayarkan setelah kondisi keuangan daerah memadai dan anggaran tersedia dalam APBD. Dengan kata lain, bukan tidak akan dibayar tetapi belum bisa dibayar sekarang.

Dan dalam urusan lebaran, kata “belum” sering terasa lebih menyiksa daripada “tidak”.

Bagi pegawai yang sudah lama bekerja sebagai ASN, mungkin masih ada cadangan tabungan. Tapi bagi banyak PPPK yang penghasilannya terbatas, THR sering menjadi penyangga penting.

THR adalah uang untuk membeli baju baru anak, mengganti sandal yang sudah putus, menyiapkan kue kering di meja tamu, atau sekadar memastikan dapur tetap mengepul saat hari raya.

Tanpa itu, lebaran terasa berbeda. Namun tidak juga berarti tidak bisa merayakan. Tapi ada rasa yang sulit dijelaskan, semacam rasa canggung ketika anak bertanya tentang baju baru atau ketika keluarga mulai membicarakan rencana belanja. Karena pada akhirnya, lebaran bukan cuma soal spiritualitas tetapi juga tentang ritual sosial yang membutuhkan biaya.

Meski demikian, lebaran tentu tetap datang. Tidak peduli apakah rekening bertambah atau tidak. Tidak peduli apakah amplop THR sempat mampir atau hanya menjadi kabar yang tertunda.

Sebagian orang mungkin akan tetap pulang kampung dengan cara yang lebih sederhana. Sebagian lainnya mungkin memilih menunda belanja. Ada juga yang mungkin hanya tertawa kecil ketika teman-temannya membicarakan THR. Karena kadang-kadang, satu-satunya cara menghadapi keadaan adalah menertawakannya pelan-pelan.

Pemkab Donggala menyatakan pembayaran THR bagi PPPK akan dilakukan setelah kondisi keuangan daerah memungkinkan dan anggaran tersedia.

Artinya, harapan itu masih ada.
Meski mungkin tidak datang sebelum Lebaran.

Dan bagi banyak PPPK di Donggala, tahun ini mungkin menjadi pengingat sederhana bahwa di balik euforia hari raya, ada juga cerita-cerita kecil tentang pegawai yang harus belajar merayakan lebaran dengan cara yang lebih sederhana dari biasanya.

Karena ternyata tidak semua orang menyambut lebaran dengan notifikasi saldo bertambah.
Sebagian hanya menyambutnya dengan kalimat sederhana: “Tidak apa-apa, yang penting tetap bisa berkumpul.”*

(Teks: AULIA AM / Foto: IST / Editor: WAHID AGUS)

  • Related Posts

    Petani Pembibit di Donggala Dorong Kemandirian Bibit Buah Bersertifikat

    DONGGALA MEDIA…

    Dua Harapan dari Banawa Gugur, Sepak Bola Donggala Ciptakan Luka

    DONGGALA MEDIA…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *