DONGGALA MEDIA – Irman Ladudin menilai dunia kesenian di Kabupaten Donggala saat ini tidak kehilangan arah, namun para senimannya dinilai belum sepenuhnya menemukan jati diri dan arah berkesenian di tengah derasnya perkembangan era digital.
Hal itu disampaikan Irman dalam wawancara bertema “Jejak Donggala Berkesenian” pada Selasa (19/5/2026).
Seniman era 1980-an yang dikenal sebagai pelaku seni lukis, pemain musik bas, sekaligus guru di SMKN 1 Banawa itu mengatakan, perkembangan seni masa kini sangat berbeda dibanding era 1980–1990-an.
“Tidak gelisah sebenarnya melihat aktivitas berkesenian generasi saat ini. Ya pastilah berkesenian di era 80-an dan sekarang sangat berbeda jauh. Berkesenian versi alamiah dan digital mungkin boleh diistilahkan seperti itu,” ujarnya.
Menurut Irman, seni pada dasarnya terus berkembang mengikuti zaman dan selalu menemukan bentuk baru. Namun ia menilai persoalan utama kesenian Donggala saat ini bukan kehilangan arah, melainkan para pelaku seninya yang masih mencari identitas.
“Seni itu berkembang begitu pula senimannya. Donggala tidak kehilangan arah dalam berkesenian, cuma senimannya yang belum menemukan arah,” katanya.
Ia menyebut seni merupakan sesuatu yang dinamis, bergerak mengikuti perjalanan hidup manusia. Karena itu, proses pencarian dalam berkarya adalah bagian penting dalam perjalanan seorang seniman.
“Nah itu tadi, kita belum menemukan arah. Dan memang seni adalah dinamis, mencari, berkarya, berjalan mengikuti hidup,” ucapnya.
Irman juga menyoroti minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap pelaku seni.
Menurutnya, selama pemerintah tidak merasa membutuhkan seniman, maka kesenian hanya akan ditempatkan sebagai pelengkap acara seremonial.
“Terjadi seperti itu karena pemerintah daerah tidak merasa butuh pada pelaku seni, maka jadilah seni itu sebatas tontonan seremonial,” tegasnya.
Bahkan ia melontarkan pernyataan keras bahwa peran seniman dalam kehidupan sosial sebenarnya lebih penting dibanding politikus.
“Padahal seniman lebih berperan penting dari politikus,” tambah Irman.
Meski demikian, Irman menilai nilai-nilai berkesenian generasi lama sebenarnya belum hilang. Ia percaya semangat seni era 1980–1990-an masih ada, hanya tertimbun oleh perubahan zaman dan belum sepenuhnya digali kembali oleh generasi sekarang.
“Tidak ada yang hilang, tapi belum menemukan nilai-nilai 80–90-an yang tertimbun,” katanya.
Di tengah perkembangan teknologi, Irman justru melihat era digital membawa peluang besar bagi dunia seni. Namun di sisi lain, tantangan bagi para seniman juga semakin berat karena dituntut menunjukkan keseriusan dan konsistensi dalam berkarya.
“Justru di era digital perkembangan berkesenian semakin pesat sekaligus tantangannya semakin berat. Di sinilah seniman dituntut keseriusannya. Siapa yang sejati,” ujarnya.
Terkait ruang berekspresi di Donggala, Irman menilai peluang sebenarnya cukup terbuka. Menurutnya, ruang dan media untuk berkesenian secara lokal masih tersedia, tinggal bagaimana para seniman mampu memanfaatkannya.
“Untuk berekspresi dimana dan apa saja bisa. Secara lokal di Donggala ruang dan medianya banyak,” ujarnya.
Jejak Seni Donggala di Palu Tahun 1990-an: “Lapar dan Kenyang Kami Rasakan Bersama”
Irman Ladudin mengungkapkan, geliat kesenian anak-anak Donggala pada era 1990-an pernah menjadi salah satu kekuatan penting dalam perkembangan dunia seni di Palu.
Menurut Irman, keberhasilan para seniman Donggala menembus ruang-ruang kesenian di Kota Palu tidak lepas dari peran para senior yang lebih dulu membangun jaringan seni dan kebudayaan.
“Harus diakui bahwa peran para senior-senior kita seperti almarhum Tanwir Pettalolo, Hedar Laudjeng, Benyamin Sohar, Rudy Lanena dan lainnya, merekalah yang membangun jaringan berkesenian di Kota Palu,” ujarnya.
Irman menuturkan, pada masa itu hampir semua cabang seni mampu diisi oleh seniman-seniman asal Donggala. Mulai dari musik, sastra, teater hingga seni pertunjukan berkembang cukup aktif dan memiliki ruang kreatif masing-masing.
“Hampir semua jenis seni yang berkembang saat itu dapat di-cover seniman-seniman Donggala,” katanya.
Ia mengenang keberadaan sejumlah kelompok seni yang cukup berpengaruh pada masanya, seperti Sanggar Hitam Putih yang fokus pada teater dan sastra, hingga kelompok musik seperti Beatles Band dan beberapa grup rock band yang aktif mewarnai panggung seni di Palu dan Donggala.
“Kita punya Sanggar Hitam Putih yang konsentrasi di teater dan sastra, Beatles Band, dan beberapa grup rock band,” ungkap Irman.
Namun menurutnya, kekuatan terbesar seniman Donggala era 1980–1990-an bukan hanya pada bakat seni, melainkan solidaritas dan rasa kekeluargaan yang sangat kuat di antara sesama pelaku seni.
Irman menggambarkan kehidupan seniman saat itu dijalani dengan kebersamaan tanpa memandang status maupun kondisi ekonomi.
“Lapar dan kenyang bersama, hujan panas dirasa bersama,” ucapnya sambil tertawa mengenang masa lalu.
Ia mengatakan hubungan antar generasi seniman saat itu juga terjalin penuh penghormatan. Para senior membimbing dan melindungi generasi muda, sementara anak-anak muda menghargai pengalaman para senior.
“Yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghargai yang tua,” katanya.
Irman juga mengungkapkan bahwa Donggala sebenarnya memiliki sejarah panjang komunitas seni yang kuat. Tidak hanya di pusat kota, tetapi juga tumbuh di berbagai wilayah kecamatan.
“Banyak komunitas seni di Donggala. Begitu juga sanggar-sanggar pelajar. Kawan-kawan di Banawa Tengah, Banawa Selatan juga punya komunitas seni,” jelasnya.
Meski demikian, ia mempertanyakan keberadaan para pelaku seni Donggala saat ini yang dinilai semakin jarang terlihat di ruang publik maupun panggung kebudayaan.
“Donggala ini punya banyak seniman atau pelaku seni. Nah, pertanyaannya dimanakah mereka? Kenapa tidak terlihat? Entahlah,” kata Irman penuh tanda tanya.
Seniman Punya Intuisi Lebih Tajam dari Politikus
Irman Ladudin menegaskan bahwa seorang seniman harus mampu hidup mandiri dan menjaga idealisme dalam berkarya, tanpa bergantung pada kekuasaan maupun intervensi politik.
“Seniman itu harus mandiri. Seni apa saja, karya itu jiwanya seniman sekalipun karya pesanan,” ujarnya.
Menurut Irman, seni dan para seniman memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan sebuah daerah, khususnya dalam membangun identitas budaya dan cara berpikir masyarakat. Namun ia menilai seniman tidak seharusnya terjebak dalam lingkaran kekuasaan politik.
“Seni plus senimannya punya peran besar dalam perkembangan daerah secara khusus, tetapi tidak berperan pada kekuasaan,” katanya.
Irman menilai idealisme seorang seniman tidak akan pernah hilang selama ia masih terus berkarya. Baginya, proses berkarya adalah napas kehidupan seorang seniman.
“Idealisme berkesenian tidak akan hilang selama ia masih berkarya,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut seorang seniman memiliki kepekaan dan intuisi yang lebih tajam dibanding politikus karena seniman hidup dengan rasa, pengamatan, dan kegelisahan sosial yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Seorang seniman memiliki intuisi yang lebih tajam dari politikus, makanya beda,” ucap Irman.
Dalam pandangannya, pemerintah daerah seharusnya memberi ruang yang lebih luas bagi pertumbuhan kebudayaan apabila ingin daerah berkembang dan dikenal secara lebih luas.
“Harus memberi ruang bagi pertumbuhan kebudayaan dalam artian yang lebih luas kalau daerah kita mau berkembang dan dikenal,” ujarnya.
Irman juga menyampaikan harapannya agar para seniman Donggala diberikan kebebasan berekspresi tanpa tekanan maupun campur tangan yang berlebihan dari pihak manapun.
“Saya cuma bilang beri ruang seniman Donggala untuk berekspresi, tidak dengan cara mengintervensi. Kita punya jalan hidup masing-masing,” tutupnya. (*)
(Teks: IRMAN LADUDIN / Editor: WAHID AGUS / Foto: IST)


