DONGGALA MEDIA – Momentum peringatan Hari Buku Nasional tahun 2026 menjadi ruang refleksi mendalam bagi Yusnita, S.Pd., M.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Banawa sekaligus Duta Baca Kabupaten Donggala periode 2021-2026 itu menilai persoalan rendahnya minat baca di Indonesia, khususnya di Donggala, tidak bisa lagi dilihat hanya sebatas persoalan malas membaca.
Dalam wawancara dengan Donggala Media pada Minggu (17/5/2026), Yusnita justru melihat akar persoalan utamanya adalah putusnya hubungan antara membaca dan praktik kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dengan mengusung motto “Berilmu Dengan Buku, Sejahtera Dengan Membaca”, ia menekankan bahwa buku seharusnya tidak hanya dipahami sebagai bahan pelajaran sekolah, tetapi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.
“Selama ini membaca hanya dianggap aktivitas sekolah yang berakhir di nilai rapor. Padahal buku seharusnya menjadi pintu masuk untuk menciptakan kesejahteraan,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat tidak membaca karena mereka belum melihat manfaat nyata dari aktivitas membaca dalam kehidupan sehari-hari. Padahal melalui buku, masyarakat dapat belajar membuat produk, mengelola usaha, hingga menambah penghasilan keluarga.
“Di Donggala, kita perlu membangun kesadaran bahwa dari membaca kita bisa belajar membuat sesuatu, mengelola usaha, hingga menambah penghasilan keluarga,” katanya.
Generasi Muda Masih Gemar Membaca, Tapi Berubah Bentuk
Yusnita menilai generasi muda Donggala sebenarnya masih gemar membaca. Hanya saja bentuk bacaannya telah bergeser ke konten digital, caption media sosial, hingga video singkat.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal ada atau tidaknya aktivitas membaca, tetapi kualitas dan kedalaman informasi yang dikonsumsi.
“Generasi muda sekarang membaca konten digital, caption dan video singkat. Tantangannya bukan pada aktivitas membaca itu sendiri, tetapi pada kedalaman dan kualitas informasi,” jelasnya.
Ia melihat perkembangan media sosial justru dapat menjadi peluang besar jika diarahkan secara produktif.
Konten digital, kata dia, bisa menjadi media belajar keterampilan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Sebagai contoh, tutorial membuat kerajinan tangan dari bahan lokal dapat menjadi pintu masuk membangun budaya membaca yang produktif.
“Kalau konten digital diarahkan ke nilai tambah ekonomi, maka membaca akan berubah dari konsumsi hiburan menjadi investasi keterampilan,” katanya.
Karena itu, sebagai Duta Baca, ia mengaku terus mendorong penguatan literasi digital yang produktif, bukan sekadar konsumtif.
Buku Tidak Kalah Relevan, Pendekatannya yang Ketinggalan
Di tengah dominasi media sosial, Yusnita menolak anggapan bahwa buku mulai kehilangan relevansi.
“Buku tidak kalah relevan, tetapi cara kita menyajikan buku yang usang,” tegasnya.
Ia menilai generasi muda tetap bersedia membaca e-book maupun artikel panjang selama topiknya sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.
Yang menjadi persoalan, menurutnya, pendekatan literasi selama ini masih terlalu kaku, membosankan, dan tidak terhubung dengan kebutuhan ekonomi generasi muda.
Yusnita mencontohkan seorang anak muda yang membaca buku tentang anyaman pandan, lalu mampu menghasilkan dompet yang dapat dijual secara online. Dalam kondisi seperti itu, buku akan terasa relevan karena memiliki dampak nyata terhadap kehidupan.
“Kita yang gagal menunjukkan koneksi itu,” ujarnya.
Membaca Masih Dianggap Beban Sekolah
Menurut Yusnita, tantangan terbesar dalam membangun budaya membaca adalah mengubah pola pikir bahwa membaca hanya identik dengan tugas sekolah dan beban akademik.
Ia mengaku sering menemukan pelajar yang lebih tertarik langsung membuat kerajinan dibanding membaca buku yang menjelaskan proses pembuatannya.
Karena itu, pendekatan yang ia dorong adalah membaca, mempraktikkan, lalu menjual hasil karya tersebut.
“Dengan motto Berilmu Dengan Buku, Sejahtera Dengan Membaca, membaca bukan tujuan akhir, tetapi alat untuk menciptakan,” katanya.
Ia percaya minat baca akan tumbuh secara alami ketika anak muda melihat bahwa pengetahuan dari buku dapat menghasilkan uang dan membuka peluang usaha.
Fasilitas Literasi Donggala Dinilai Belum Inklusif
Yusnita juga menyoroti masih minimnya fasilitas literasi di Donggala, khususnya di desa-desa.
Menurutnya, banyak wilayah belum memiliki koleksi buku keterampilan terapan seperti kerajinan tangan, budidaya perikanan, maupun manajemen usaha kecil.
Padahal buku-buku semacam itu sangat penting untuk mewujudkan konsep “Sejahtera dengan Membaca”.
“Pemerintah daerah perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk pengadaan buku kewirausahaan dan keterampilan dalam bahasa yang mudah dipahami,” ujarnya.
Ia juga mengusulkan agar taman bacaan masyarakat dilengkapi ruang praktik agar anak-anak dapat langsung mencoba apa yang mereka baca.
Hari Buku Nasional Dinilai Masih Seremonial
Yusnita menilai peringatan Hari Buku Nasional selama ini masih terlalu berfokus pada kegiatan simbolik seperti lomba resensi, bedah buku, dan pameran.
Menurutnya, kegiatan tersebut sering tidak meninggalkan dampak jangka panjang.
Ia mengusulkan agar peringatan Hari Buku Nasional di Donggala diakhiri dengan pameran produk hasil membaca, bukan sekadar pameran buku.
“Pertanyaannya, setelah Hari Buku Nasional berapa banyak anak muda yang memulai usaha kecil berbasis bacaan?” ujarnya kritis.
Strategi Membuat Membaca Menjadi Keren
Sebagai Duta Baca, Yusnita juga memaparkan berbagai strategi kreatif agar membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan dan relevan bagi generasi muda.
Salah satunya melalui program “Baca-Aksi Challenge”, yakni anak muda membaca buku tentang kerajinan, lalu membuat produk dan mempublikasikannya di media sosial dengan tagar:
#BerilmuDenganBukuSejahteraDenganMembaca.
Ia juga mendorong kolaborasi dengan influencer lokal untuk membuat konten “Dari Buku ke Rupiah” di TikTok dan Instagram.
Selain itu, ia mengusulkan kompetisi membaca berbasis ekonomi kreatif, pojok baca di tempat nongkrong, perpustakaan dengan ruang praktik, hingga pendirian pojok baca desa dan pelatihan guru literat di Donggala.
“Kuncinya, membaca harus terlihat keren, asyik dan menghasilkan cuan,” katanya.
Membaca untuk Berdagang
Yusnita menilai pembangunan budaya baca di keluarga tidak boleh dilakukan dengan menyalahkan orang tua yang belum memiliki kebiasaan membaca.
Pendekatan yang ia tawarkan adalah menghubungkan membaca dengan kebutuhan ekonomi keluarga.
Ia mencontohkan program “Membaca untuk Berdagang”, di mana orang tua belajar membaca resep, menghitung untung rugi, hingga memahami label produk dari buku sederhana.
“Membaca bukan lagi untuk anak sekolah saja, tetapi untuk menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.
Krisis Membaca Mendalam dan Ancaman Masa Depan
Menurut Yusnita, kemampuan membaca mendalam saat ini mengalami penurunan drastis. Dampaknya, generasi muda kehilangan kemampuan berpikir sistematis dan mudah terjebak pada solusi instan.
Ia khawatir kondisi tersebut membuat potensi ekonomi kreatif Donggala berbasis kearifan lokal tidak berkembang karena minimnya kemampuan membaca peluang pasar, menulis proposal, hingga mempelajari teknik produksi secara serius.
“Budaya membaca mendalam adalah fondasi inovasi dan kemandirian ekonomi,” katanya.
Perpustakaan Sekolah Masih Kaku dan Sepi
Yusnita juga mengkritik kondisi sebagian besar perpustakaan sekolah di Donggala yang dinilainya masih sepi, usang, dan tidak menarik bagi siswa.
“Perpustakaan masih seperti gudang,” katanya.
Ia mendorong sekolah mengubah perpustakaan menjadi pusat kreasi dengan suasana nyaman, koleksi buku yang relevan, hingga ruang yang memajang karya siswa.
Menurutnya, dana BOS seharusnya dapat dimanfaatkan untuk pengadaan buku keterampilan dan pembenahan ruang perpustakaan.
Krisis Kepercayaan terhadap Buku
Fenomena masyarakat yang lebih percaya media sosial dibanding buku disebut Yusnita sebagai krisis otoritas pengetahuan.
“Buku dianggap kolot dan elitis, sementara media sosial dianggap lebih dekat dan jujur,” ujarnya.
Namun ia menegaskan media sosial tidak perlu dilawan, melainkan dimanfaatkan untuk mempopulerkan budaya membaca melalui konten kreatif.
Ia juga mengingatkan pentingnya melatih masyarakat membedakan sumber informasi yang valid dan dapat dipercaya.
Ancaman Hilangnya Peradaban Lokal
Di akhir wawancara, Yusnita menyampaikan kekhawatiran besar jika budaya membaca terus melemah.
Menurutnya, generasi muda Donggala dapat kehilangan kemampuan belajar mandiri dan hanya menjadi konsumen informasi.
Akibatnya, potensi sumber daya alam dan budaya lokal tidak berkembang optimal, sementara pengetahuan tentang kerajinan tradisional, pengobatan lokal, hingga kearifan ekologis terancam punah.
“Budaya baca adalah perisai terakhir melawan kepunahan pengetahuan lokal,” tegasnya.
Melalui momentum Hari Buku Nasional, Yusnita mengajak generasi muda Donggala menjadikan membaca sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi dan masa depan yang lebih baik.
“Cobalah baca satu buku tentang kerajinan atau usaha kecil. Lalu buat satu produk sederhana dan jual. Rasakan bagaimana buku bisa mengubah hidupmu,” pesannya.
Ia menutup refleksinya dengan slogan yang selama ini ia gaungkan sebagai Duta Baca Kabupaten Donggala:
“Berilmu dengan Buku, Sejahtera dengan Membaca.” (*)
(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: IST)


