Buya Subi Festival 2026 Disiapkan Jadi Gerbang Tenun Donggala ke Pasar Dunia, Pemkab Targetkan Masuk APBD Mulai 2027

DONGGALA MEDIA – Pemerintah Kabupaten Donggala menegaskan komitmennya menjadikan Buya Subi Festival (BSF) sebagai agenda strategis untuk mendorong pelestarian budaya sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis tenun khas Donggala. Meski pada 2026 penyelenggaraan BSF belum dianggarkan melalui APBD Kabupaten Donggala, pemerintah berencana memasukkannya ke dalam penganggaran daerah mulai tahun 2027 hingga 2030.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Donggala, Muhammad, saat memberikan keterangan kepada Donggala Media, Jumat (10/7/2026).

“Tahun 2026 belum dimasukkan penganggarannya ke dalam APBD. Insya Allah mulai tahun 2027 sampai 2030 akan kami rencanakan masuk dalam APBD, tentu disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia di dinas kami,” ujarnya.

Kadis Muhammad mengatakan, penyelenggaraan Buya Subi Festival tidak hanya berorientasi pada kemeriahan acara, tetapi memiliki indikator keberhasilan yang terukur. Di antaranya jumlah pengunjung, tingkat partisipasi masyarakat, keterlibatan pelaku UMKM, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk lokal, serta bertambahnya pendapatan para pengrajin dan pelaku usaha.

Menurutnya, peningkatan ekonomi masyarakat menjadi salah satu sasaran utama festival. Karena itu, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari kolaborasi dengan influencer fesyen, desainer lokal hingga merek nasional untuk mempromosikan kain tenun Buya Subi.

Selain itu, produk tenun akan diperkenalkan melalui berbagai pameran dan bazar di Palu, Jakarta, maupun ajang nasional lainnya.

Pemerintah juga mendorong pengembangan produk turunan seperti tas, dompet, gantungan kunci, hingga suvenir yang dipasarkan di hotel, bandara, dan pusat oleh-oleh.

Tidak hanya itu, wisata edukasi juga akan dikembangkan melalui paket belajar menenun yang dipadukan dengan kuliner lokal dan homestay sebagai pengalaman wisata budaya bagi pengunjung.

Kadis Muhammad menjelaskan, pemerintah juga menyiapkan sejumlah program konkret bagi para penenun Buya Subi. Di antaranya menjalin kemitraan dengan brand fesyen lokal, memperluas pemasaran melalui marketplace digital, menerapkan sistem pre-order agar penenun memperoleh modal produksi lebih awal, hingga memberikan pelatihan digital marketing, fotografi produk, dan pembuatan konten promosi.

“Ke depan kami juga ingin produk tenun Buya Subi menjadi bagian dari dekorasi hotel, restoran, maupun suvenir resmi bagi tamu yang datang ke Sulawesi Tengah,” katanya.

Di sisi lain, Pemkab Donggala juga memberi perhatian terhadap perlindungan identitas Tenun Buya Subi melalui penguatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Upaya tersebut mencakup pendaftaran nama, motif, dan proses produksi khas Buya Subi, pemberian label keaslian berbasis hologram atau QR Code, hingga sosialisasi kepada penenun dan pedagang agar mampu membedakan produk asli dan tiruan.

Menurut mantan Camat Banawa dan Banawa Selatan itu, langkah tersebut penting untuk menjaga nilai ekonomi sekaligus melindungi warisan budaya Donggala dari praktik pemalsuan.

Dalam pengembangan pasar internasional, telah terjalin kerja sama strategis dengan Eco Fashion Week Australia (EFWA) melalui Proyek Buya Subi periode 2026–2030. Kerja sama tersebut meliputi promosi pasar internasional, pendampingan desain, pelatihan keberlanjutan, pemberdayaan penenun perempuan, hingga promosi tenun Donggala pada berbagai ajang dunia.

Ia menjelaskan, proyek tersebut diawali dengan peluncuran di Desa Towale pada Desember 2025, dilanjutkan dengan peragaan busana di Museum Boola Bardip, Perth, Australia, pada April 2026 bekerja sama dengan KJRI Perth.

Sementara Buya Subi Festival 2026 di Donggala menjadi puncak rangkaian kolaborasi tersebut.

Selain itu, pemerintah juga tengah membangun kerja sama ekonomi kreatif yang melibatkan Duta Besar Australia untuk membantu promosi kain tenun Buya Subi ke pasar Australia. Bahkan, terbuka peluang pameran pada ajang Paris Fashion melalui jejaring kerja sama internasional yang sedang dibangun.

Kadis Muhammad optimistis berbagai kolaborasi tersebut akan memberikan dampak besar bagi masyarakat Donggala, terutama dalam meningkatkan pendapatan penenun, memperluas akses pasar global, memberdayakan perempuan, sekaligus meningkatkan apresiasi dunia terhadap budaya tenun khas Donggala.

Agar pengembangan kawasan wisata berjalan optimal, pemerintah juga mendorong peningkatan infrastruktur pendukung. Di antaranya pembangunan jalan lingkar kawasan wisata Boneoge–Towale, penyediaan air bersih, penguatan jaringan internet, peningkatan fasilitas sanitasi, hingga pembangunan penginapan, restoran, dan pusat informasi wisata.

“Seluruh upaya ini kami lakukan agar Buya Subi Festival tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi penggerak ekonomi kreatif yang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkenalkan Tenun Buya Subi sebagai identitas budaya Donggala di tingkat nasional maupun internasional,” tutupnya. (*)

(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: IST)

Related Posts

Ketua DPRD Donggala Dorong Buku Harmoni dengan Alam Jadi Acuan Kebijakan, Soroti Konflik Regulasi hingga Ekonomi Hijau

DONGGALA MEDIA…

Pertama Bertugas Kapolres Aditiya Minta Dukungan Forkopimda Donggala

DONGGALA MEDIA…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *