DONGGALA MEDIA – Dinas Perikanan Kabupaten Donggala terus melakukan upaya pemulihan ekonomi masyarakat pesisir pasca banjir akibat curah hujan tinggi dengan memberikan pendampingan kepada pembudidaya tambak tradisional melalui penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).
Pendampingan tersebut dilakukan sebagai bagian dari program penguatan produksi budidaya tambak udang tradisional agar para pembudidaya dapat kembali produktif dengan metode budidaya yang lebih efektif, hemat biaya, dan ramah lingkungan.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Donggala, Ali Assagaf pada kegiatan penyaluran bantuan sarana produksi budidaya tambak udang di Desa Siboang Kecamatan Sojol, Senin (25/5/2026) menjelaskan, penerapan CBIB menjadi langkah penting untuk meningkatkan hasil produksi tambak sekaligus mengurangi risiko kerusakan tambak saat musim hujan.
“Pendampingan ini bertujuan agar masyarakat pembudidaya tambak tradisional mampu mengelola tambaknya dengan lebih baik, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Ali Assagaf.
Ia menjelaskan, dalam penerapan CBIB terdapat beberapa tahapan penting yang didampingi langsung oleh petugas perikanan di lapangan.
Pertama, perbaikan konstruksi tambak dilakukan dengan memperkuat pematang agar tidak mudah jebol saat hujan deras. Selain itu, petambak juga diarahkan membuat pintu air sederhana dari kayu atau bambu untuk mengatur pasang surut air secara alami tanpa menggunakan pompa besar.
Kedua, pada tahap penyediaan dan pengaturan air, petambak memanfaatkan air pasang yang ditahan di tambak serta membuat petak kecil sebagai biofilter di sisa lahan tambak. Filtrasi sederhana menggunakan saringan strimin maupun bambu juga diterapkan untuk mencegah masuknya hama.
Selanjutnya, pada pengolahan tanah dan pemupukan alami, dasar tambak dikeringkan selama satu hingga dua minggu setelah panen untuk menghilangkan gas beracun dan mengeringkan lumpur. Jika kondisi tanah asam, petambak dianjurkan menebar kapur dolomit.
Sementara untuk menumbuhkan pakan alami berupa plankton, digunakan pupuk kandang atau kompos sehingga tidak bergantung pada pupuk kimia yang mahal.
Pada tahap penebaran benih, pembudidaya diarahkan menggunakan benih berkualitas dengan kepadatan rendah sekitar 3-5 ekor per meter persegi agar pertumbuhan udang lebih optimal dan tidak terjadi persaingan pakan berlebihan.
Proses aklimatisasi benur juga tetap dilakukan secara bertahap dengan mencampurkan air tambak sedikit demi sedikit ke dalam kantong benur.
Sementara itu, dalam pola pemberian pakan, tambak tradisional lebih mengandalkan pakan alami yang berasal dari plankton dan organisme dasar tambak. Pakan tambahan hanya diberikan secukupnya, biasanya satu hingga dua kali sehari untuk menekan biaya produksi.
Menurut Ali Assagaf, metode budidaya sederhana berbasis CBIB tersebut sangat cocok diterapkan pada tambak tradisional masyarakat karena lebih hemat biaya namun tetap mampu meningkatkan produktivitas tambak.
“Kami berharap masyarakat pembudidaya tambak bisa mandiri dan memiliki hasil produksi yang lebih baik melalui penerapan budidaya yang tepat dan berkelanjutan,” tutupnya. (*)
(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: IST)


