DONGGALA MEDIA – Banawa hari ini Kamis 30 April 2026 berusia 65 tahun. Umur yang tidak muda, bahkan lebih tua dari Provinsi Sulawesi Tengah.
Usia yang seharusnya sudah matang, sudah mapan, sudah percaya diri berdiri sebagai ibu kota Kabupaten Donggala.
Tapi Banawa bukan sekadar angka umur.
Banawa adalah cerita panjang tentang kejayaan, kesabaran dan harapan yang belum selesai.
Banawa, dulu dikenal sebagai kota pelabuhan penting di pesisir barat Sulawesi Tengah.
Kapal datang dan pergi, perdagangan hidup, orang-orang bertemu dari berbagai penjuru. Ia bukan hanya tempat singgah, tapi simpul kehidupan.
Jauh sebelum itu, Banawa adalah kerajaan. Ada sejarah, ada martabat, ada peradaban yang pernah berdiri tegak di tanah ini.
Hari ini, Banawa tetap menjadi pusat.
Ia adalah ibu kota Kabupaten Donggala.
Ia adalah kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak dari 16 kecamatan.
Ia adalah rumah bagi banyak wajah:
Boneoge, Labuan Bajo, Boya, Tanjung Batu, Maleni, Ganti, Gunung Bale, Kabonga Kecil, Kabonga Besar,
serta desa-desa Loli yang menyimpan denyut kehidupan: Loli Dondo, Loli Tasiburi, Loli Pesua, Loli Saluran, dan Loli Oge.
Banawa adalah miniatur Indonesia.
Beragam suku, agama, budaya dan tingkat kehidupan hidup berdampingan.
Dan di tengah semua perbedaan itu, Banawa tetap tenang.
Tidak gaduh.
Tidak retak.
Kerukunan di sini bukan slogan, tapi kebiasaan.
Namun kita juga harus jujur—dan kejujuran itulah bentuk cinta paling nyata.
Banawa hari ini bukan tanpa luka.
Sebagai ibu kota, denyut ekonominya masih lemah.
Perputaran uang sepi.
Daya beli masyarakat rendah.
Potensi besar belum sepenuhnya menjadi kesejahteraan nyata.
Di sudut-sudut kota, masih terlihat:
Sampah yang belum tertangani baik.
Lampu jalan yang redup atau mati.
Bangunan kumuh yang menunggu perhatian.
Pohon-pohon yang ditebang, menyisakan panas di siang hari.
Ternak yang berkeliaran.
Bahkan ancaman narkotika dan pencurian kecil yang mengusik rasa aman.
Ini bukan untuk menyalahkan.
Ini untuk mengingatkan:
bahwa Banawa masih butuh kerja keras—bukan sekadar perayaan.
Padahal, Banawa bukan daerah miskin potensi.
Banawa itu indah.
Dari Tanjung Karang hingga Boneoge, lautnya jernih, anginnya bersih.
Menara Suar Boneoge berdiri sebagai saksi waktu.
Mangrove Kabonga menjaga kehidupan.
Kota Tua Donggala menyimpan sejarah yang tak ternilai.
Banawa itu kaya.
Selat Makassar memberi ikan yang melimpah.
Tanahnya menyimpan batuan bernilai.
Kelapa tumbuh subur.
Pelabuhan berdiri, menunggu lebih hidup.
Kuliner khas seperti Kaledo dan ikan bakar segar bukan hanya makanan—itu identitas.
Banawa juga bukan kekurangan manusia hebat.
Ada doktor, ulama, pendeta, cendekiawan dan para ahli di berbagai bidang.
Ada masyarakat yang sabar, religius dan kuat menghadapi keadaan.
Dan di tanah ini pula, para leluhur beristirahat dengan tenang—
di Labuan Bajo, Maleni, pemakaman Cina, dan Kristen—
seakan mengingatkan kita:
bahwa Banawa bukan sekadar tempat hidup, tapi juga tempat kembali.
Hari ini, Banawa berdiri di persimpangan sejarah baru.
Di seberang Selat Makassar, Ibu Kota Nusantara (IKN) sedang tumbuh.
Artinya, Banawa tidak lagi berada di pinggir peta—
ia berada di depan gerbang masa depan.
Jalur Palu–Makassar melintasi Banawa.
Potensi bandara di Lappaloang terbuka.
Letak strategis ini bukan kebetulan—ini peluang.
Tapi peluang tidak akan menunggu.
Kalau kita lambat, Banawa hanya akan jadi penonton.
Kalau kita tidak bersiap, orang luar yang akan datang mengambil peran.
Maka di usia ke-65 ini, Banawa harus memilih:
Apakah tetap menjadi kota yang tenang tapi tertinggal?
Atau menjadi kota yang bangkit, bergerak, dan dihormati?
Jawabannya ada pada semua warga Banawa.
Bukan hanya pemerintah.
Bukan hanya tokoh.
Tapi seluruh masyarakat Banawa.
Mulai dari hal kecil:
Menjaga kebersihan lingkungan
Menghidupkan kembali ekonomi lokal
Peduli terhadap keamanan
Menanam kembali pohon
Mendukung usaha kecil
Menghidupkan kembali semangat gotong royong
Dan yang paling penting:
berani berubah.
Banawa tidak kekurangan sejarah.
Banawa tidak kekurangan potensi.
Banawa tidak kekurangan orang baik.
Yang dibutuhkan hari ini hanya satu:
kemauan untuk bangkit bersama.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-65 Kecamatan Banawa.
Mari kita jaga yang sudah baik.
Mari kita perbaiki yang masih kurang.
Mari kita rebut masa depan—bukan menunggu.
Karena Banawa bukan kota biasa.
Banawa adalah rumah kehidupan lintas generasi.
Dan rumah ini, layak untuk menjadikan hidup lebih baik dan berkualitas. (*)
(Teks/Editor/Foto: WAHID AGUS)


