DONGGALA MEDIA – Setiap tanggal 23 Mei, dunia memperingati World Turtle Day atau Hari Penyu dan Kura-Kura Sedunia.
Momentum ini bukan sekadar peringatan simbolik tentang satwa laut, tetapi menjadi pengingat keras bahwa keberlangsungan kehidupan manusia juga sangat bergantung pada kelestarian penyu dan ekosistem laut yang mereka jaga.
Penyu merupakan salah satu makhluk purba yang telah hidup di bumi sejak lebih dari 100 juta tahun lalu. Mereka berhasil bertahan melewati berbagai perubahan zaman, bahkan sejak era dinosaurus. Namun ironisnya, di era modern saat ini, penyu justru menghadapi ancaman besar akibat ulah manusia sendiri.
Penyu Sang Penjaga Ekosistem Laut
Banyak orang menganggap penyu hanyalah hewan laut biasa. Padahal, keberadaan penyu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan manusia.
Penyu hijau misalnya, berperan menjaga kesehatan padang lamun dengan memakan rumput laut secara teratur. Padang lamun yang sehat menjadi tempat berkembang biak ikan dan berbagai biota laut yang menjadi sumber pangan masyarakat pesisir.
Sementara penyu sisik membantu menjaga terumbu karang tetap sehat dengan mengendalikan populasi spons laut. Jika populasi spons tidak terkendali, maka pertumbuhan karang akan terganggu dan ekosistem laut bisa rusak.
Keberadaan penyu juga membantu rantai makanan laut tetap seimbang. Bahkan telur penyu yang menetas di pantai membawa nutrisi penting bagi vegetasi pesisir dan membantu menjaga ketahanan pantai dari abrasi.
Artinya, ketika penyu hilang, maka kerusakan laut perlahan akan ikut membesar. Dampaknya bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat nelayan, pariwisata bahari, hingga ketahanan pangan manusia.
Nasib Penyu di Dunia dan Indonesia Saat Ini
Saat ini kondisi penyu di dunia sangat memprihatinkan. Dari tujuh spesies penyu laut yang ada di dunia, sebagian besar masuk kategori terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Ancaman terbesar penyu berasal dari: Perburuan liar; Pengambilan telur; Sampah plastik di laut; Kerusakan habitat pantai; Perubahan iklim; Aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Banyak penyu mati akibat menelan plastik yang dikira ubur-ubur. Ada pula yang terjerat jaring ikan dan tidak bisa naik ke permukaan untuk bernapas.
Di Indonesia, situasinya juga tidak kalah mengkhawatirkan. Padahal Indonesia merupakan salah satu jalur migrasi dan habitat penting penyu dunia. Hampir seluruh jenis penyu laut dapat ditemukan di perairan Indonesia, termasuk penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, penyu tempayan, hingga penyu belimbing.
Namun populasi mereka terus mengalami penurunan akibat eksploitasi yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Kenapa Penyu Diburu Manusia?
Perburuan penyu terjadi karena berbagai faktor ekonomi dan budaya.
Telur penyu masih dianggap memiliki nilai jual tinggi dan dipercaya sebagian orang sebagai makanan berkhasiat, meski tidak terbukti secara ilmiah. Daging penyu juga masih diperjualbelikan secara ilegal di beberapa daerah.
Selain itu, bagian tubuh penyu seperti tempurung penyu sisik sering dijadikan kerajinan atau aksesoris bernilai mahal di pasar gelap.
Di sisi lain, lemahnya pengawasan serta rendahnya kesadaran masyarakat membuat perdagangan ilegal penyu masih terus terjadi.
Padahal seluruh jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi negara. Perburuan, perdagangan, hingga konsumsi penyu merupakan tindakan melanggar hukum yang dapat dikenai sanksi pidana.
Donggala dan Harapan Penyelamatan Penyu
Di tengah ancaman kepunahan penyu, Kabupaten Donggala ternyata memiliki peran penting dalam upaya penyelamatan satwa langka tersebut.
Aktivitas perlindungan dan pemeliharaan penyu telah dilakukan masyarakat di Desa Lalombi, Kecamatan Banawa Selatan, serta di Desa Mapane Tambu, Kecamatan Balaesang.
Kehadiran masyarakat pesisir yang peduli terhadap penyu menjadi harapan besar bagi keberlangsungan spesies ini di Sulawesi Tengah.
Tidak hanya itu, kawasan Pulau Pasoso di Desa Manimbaya, Kecamatan Balaesang Tanjung, juga dikenal sebagai habitat penting penyu hijau.
Pulau Pasoso bahkan disebut sebagai benteng terakhir tempat kehidupan penyu hijau yang kini semakin terancam punah.
Kawasan ini menjadi lokasi peneluran alami yang sangat penting bagi regenerasi populasi penyu di wilayah Sulawesi.
Jika habitat seperti Pulau Pasoso rusak akibat aktivitas manusia, abrasi, pencemaran, maupun eksploitasi pesisir, maka ancaman kepunahan penyu hijau akan semakin nyata.
Karena itu, pelestarian penyu tidak cukup hanya dilakukan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat, nelayan, sekolah, komunitas lingkungan, hingga generasi muda untuk menjaga habitat penyu tetap aman.
Menjaga Penyu Adalah Menjaga Kehidupan
Momentum Hari Penyu dan Kura-Kura Sedunia seharusnya menjadi refleksi bahwa manusia tidak hidup sendiri di bumi ini. Laut yang sehat adalah penyangga kehidupan manusia, dan penyu merupakan bagian penting dari keseimbangan tersebut.
Ketika penyu punah, yang hilang bukan hanya satu spesies satwa laut, tetapi juga sebagian keseimbangan alam yang menopang kehidupan manusia.
Dari pesisir Donggala hingga Pulau Pasoso, upaya kecil menjaga telur penyu, membersihkan pantai, menghentikan perburuan, dan menjaga laut dari sampah plastik sesungguhnya adalah investasi besar untuk masa depan generasi mendatang.
Penyu telah bertahan jutaan tahun di bumi.Kini pertanyaannya, mampukah manusia menjaga mereka agar tetap hidup untuk masa depan dunia? (*)
(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: AI)


