DONGGALA MEDIA – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Momentum ini bukan sekadar mengenang lahirnya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908, tetapi juga menjadi pengingat bahwa sebuah bangsa hanya bisa maju jika rakyatnya memiliki kesadaran untuk bangkit bersama menghadapi tantangan zaman.
Di tengah semangat Harkitnas tahun ini, Kabupaten Donggala juga patut menjadikan momentum ini sebagai cermin besar untuk melihat kondisi daerah secara jujur.
Sebab kebangkitan sejati bukan hanya soal seremoni, baliho, atau pidato tahunan, melainkan tentang bagaimana rakyat benar-benar merasakan perubahan dalam hidup mereka.
Donggala adalah daerah yang kaya. Lautnya luas, hasil buminya melimpah, potensi pariwisatanya indah, sumber daya manusianya kuat, dan letaknya strategis.
Namun di balik kekayaan itu, masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Kemiskinan yang Masih Menjadi Luka
Tidak bisa dipungkiri, persoalan kemiskinan masih menjadi tantangan serius di Donggala.
Di banyak desa, masyarakat masih hidup dengan penghasilan tidak menentu. Nelayan bergantung pada cuaca, petani menghadapi harga hasil panen yang sering tidak stabil, sementara sebagian masyarakat kecil masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Ironisnya, daerah yang memiliki potensi sumber daya alam besar justru masih menyimpan kantong-kantong kemiskinan. Ini menjadi pertanyaan besar:
Apakah hasil pembangunan sudah benar-benar menyentuh masyarakat bawah?
Kebangkitan nasional seharusnya dimaknai sebagai keberanian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih serius memastikan kesejahteraan masyarakat bukan hanya angka statistik, tetapi kenyataan yang dirasakan rakyat.
Stunting Bukan Sekadar Soal Gizi
Persoalan stunting juga menjadi alarm penting bagi masa depan Donggala. Anak-anak yang mengalami stunting bukan hanya menghadapi masalah tinggi badan, tetapi juga ancaman terhadap kualitas kecerdasan dan produktivitas generasi mendatang.
Jika hari ini masih banyak anak tumbuh dengan asupan gizi yang tidak memadai, maka sesungguhnya masa depan daerah sedang dipertaruhkan.
Harkitnas harus menjadi momentum membangkitkan kesadaran bersama bahwa pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama.
Pembangunan tidak cukup hanya dengan gedung dan proyek fisik, tetapi juga memastikan anak-anak Donggala tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Lapangan Kerja dan Nasib Anak Muda
Salah satu persoalan yang paling dirasakan masyarakat hari ini adalah sulitnya lapangan kerja.
Banyak anak muda Donggala memiliki pendidikan cukup, namun masih kesulitan mendapatkan pekerjaan layak. Akibatnya, tidak sedikit yang memilih merantau ke luar daerah demi mencari penghidupan.
Sebagian lainnya bertahan dengan pekerjaan serabutan atau hidup dalam ketidakpastian ekonomi.
Padahal generasi muda adalah energi kebangkitan sesungguhnya.
Jika anak muda kehilangan harapan di tanah kelahirannya sendiri, maka daerah akan kehilangan kekuatan besar untuk maju.
Pemerintah daerah bersama dunia usaha harus mampu membuka ruang ekonomi baru, mulai dari pengembangan UMKM, industri kreatif, sektor perikanan modern, pertanian produktif, hingga pariwisata berbasis masyarakat.
Donggala tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah potensi yang dimilikinya sendiri.
Infrastruktur Masih Menjadi Keluhan
Di sejumlah wilayah, persoalan jalan rusak, akses air bersih, jaringan listrik, hingga internet masih menjadi keluhan masyarakat.
Infrastruktur yang belum merata membuat pertumbuhan ekonomi berjalan lambat.
Bagi masyarakat desa, jalan bukan sekadar soal aspal. Jalan adalah akses pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan harapan hidup yang lebih baik.
Kebangkitan daerah akan sulit tercapai jika masih ada wilayah yang merasa tertinggal dari pembangunan.
Karena itu, Harkitnas harus menjadi pengingat bahwa pembangunan harus adil dan merata. Tidak boleh ada masyarakat yang merasa dilupakan hanya karena tinggal jauh dari pusat kota.
Pendidikan dan Kesehatan Harus Menjadi Prioritas
Kemajuan sebuah daerah tidak diukur dari banyaknya proyek besar, tetapi dari kualitas manusianya. Pendidikan dan kesehatan menjadi fondasi penting kebangkitan daerah.
Masih ada sekolah yang membutuhkan perhatian serius. Masih ada tenaga kesehatan yang bekerja dengan keterbatasan fasilitas. Bahkan di beberapa wilayah, masyarakat masih harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan memadai.
Jika ingin bangkit, Donggala harus berani berinvestasi besar pada kualitas manusia.
Anak-anak harus mendapatkan pendidikan yang baik. Guru harus diperhatikan. Tenaga medis harus didukung. Sebab dari sanalah masa depan daerah dibangun.
Kebangkitan Harus Dimulai dari Kejujuran dan Kepedulian
Harkitnas juga harus menjadi momentum introspeksi bagi semua pihak, baik pemerintah, DPRD, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, pemuda, hingga masyarakat itu sendiri.
Kebangkitan tidak akan lahir dari budaya saling menyalahkan. Tetapi juga tidak akan lahir jika semua persoalan ditutupi seolah tidak ada masalah.
Donggala membutuhkan keberanian untuk jujur melihat kekurangan daerah, sekaligus keberanian untuk bekerja bersama memperbaikinya.
Korupsi harus dilawan. Tata kelola pemerintahan harus bersih. Pelayanan publik harus lebih baik. Anggaran daerah harus benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat.
Karena rakyat hari ini tidak hanya membutuhkan janji, tetapi bukti nyata.
Donggala Harus Bangkit dengan Kekuatan Sendiri
Hari Kebangkitan Nasional sejatinya mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kolektif. Bangkit berarti tidak menyerah pada keadaan. Bangkit berarti berani berubah. Bangkit berarti percaya bahwa masa depan bisa lebih baik jika semua bergerak bersama.
Donggala memiliki semua syarat untuk maju. Alamnya kaya, budayanya kuat, masyarakatnya pekerja keras, dan generasi mudanya penuh potensi.
Yang dibutuhkan sekarang adalah keseriusan, keberpihakan kepada rakyat, dan kepemimpinan yang benar-benar bekerja untuk masa depan daerah.
Momentum 20 Mei tidak boleh berhenti sebagai agenda tahunan penuh spanduk dan ucapan seremonial. Harkitnas harus menjadi pengingat bahwa kebangkitan sejati dimulai ketika rakyat kecil mulai merasakan keadilan, kesejahteraan, dan harapan hidup yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah daerah bukan pada megahnya pidato, tetapi pada seberapa banyak rakyatnya bisa hidup dengan layak, sehat, dan penuh harapan. (*)
(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: AI)


