Tablet Tambah Darah dan Harapan yang Tidak Boleh Sekadar Ditelan

DONGGALA MEDIA — Kalau mendengar kalimat “Hari Kebangkitan Nasional” (Harkitnas), sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan upacara, pidato formal, atau spanduk merah putih yang dipasang buru-buru di pinggir jalan lalu dilepas seminggu kemudian.

Di Kabupaten Donggala, ada cara lain memaknai peringatan Harkitnas yaitu memastikan anak-anak muda perempuan tidak tumbang cuma karena kurang zat besi.

Rabu pagi (20/05/2026), di SMK Al-Amiin Desa Wani II, Kecamatan Tanantovea, Wakil Bupati (Wabup) Donggala, Taufik M. Burhan, membuka kegiatan Gerakan Aksi Bergizi Tahun 2026. Kegiatan ini fokus pada satu masalah yang sering dianggap sepele padahal diam-diam menggerogoti masa depan: anemia pada remaja putri.

Dan jujur saja, kadang negeri ini memang aneh.

Kita sering ribut soal bonus demografi, generasi emas, Indonesia maju, tapi lupa memastikan remajanya cukup darah untuk sekadar tidak pusing saat upacara.

Dalam sambutannya, Wabup Taufik mencoba menarik benang merah antara Harkitnas dan isu kesehatan. Menurutnya, kebangkitan tidak melulu soal ekonomi atau pembangunan fisik, tapi juga dimulai dari tubuh yang sehat.

“Momentum Hari Kebangkitan Nasional ini kita maknai sebagai ajakan untuk bangkit, termasuk di bidang kesehatan. Kita ingin Donggala juga bangkit, salah satunya melalui generasi muda yang sehat,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup menohok.
Sebab kita hidup di masa ketika orang lebih mudah membeli kopi susu literan ketimbang rutin minum tablet tambah darah.

Padahal, anemia pada remaja putri bukan sekadar urusan “kurang Hb”. Dampaknya panjang. Mulai dari mudah lelah, sulit konsentrasi belajar, sampai berisiko melahirkan anak stunting ketika kelak menjadi ibu.

Dan di titik inilah persoalan menjadi serius.

Data triwulan I tahun 2026 menunjukkan angka stunting di Kabupaten Donggala masih berada di angka 17,53 persen. Memang sudah mendekati target nasional, tapi angka itu tetap bukan sesuatu yang pantas dirayakan sambil tepuk tangan terlalu keras karena di balik persentase itu ada anak-anak yang tumbuh tidak maksimal. Ada masa depan yang pelan-pelan dipendekkan sejak dini.

Salah satu penyebab yang masih jadi pekerjaan rumah adalah tingginya kasus anemia, terutama pada remaja putri dan ibu hamil.

Makanya pemerintah daerah mendorong konsumsi tablet tambah darah secara rutin. Tahun 2025 lalu, capaian konsumsi tablet tambah darah remaja putri di Donggala sebenarnya sudah cukup tinggi, mencapai 85,45 persen.

Tapi seperti hubungan yang terlihat baik-baik saja di media sosial, angka rata-rata kadang menutupi kenyataan di lapangan.

Masih ada wilayah yang capaiannya jauh di bawah target. Salah satunya wilayah kerja UPTD Puskesmas Malambora Wani yang baru menyentuh angka 64,39 persen.

Artinya, masih banyak remaja putri yang belum rutin mengonsumsi tablet tambah darah. Bisa karena kurang edukasi, kurang pengawasan, atau mungkin karena rasa tabletnya kalah menarik dibanding es teh jumbo.

Dalam kegiatan Aksi Bergizi itu, para siswa tidak cuma duduk mendengar sambutan pejabat sambil menahan kantuk. Mereka diajak senam bersama, makan buah bersama, lalu minum tablet tambah darah secara serentak.

Ada juga penandatanganan komitmen lintas sektor. Sebuah tradisi khas birokrasi Indonesia yang semoga kali ini tidak berhenti sebagai foto dokumentasi semata. Karena persoalan gizi memang tidak bisa diselesaikan sendirian.

Pemerintah butuh sekolah. Sekolah butuh tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan butuh dukungan masyarakat. Dan masyarakat butuh lingkungan yang membuat hidup sehat terasa mungkin, bukan sekadar slogan di baliho.

Wabup Taufik juga menegaskan bahwa penanganan masalah gizi membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah.

Dan memang begitulah kenyataannya.

Stunting tidak selesai hanya dengan seminar. Anemia tidak hilang cuma lewat spanduk ucapan Hari Kebangkitan Nasional. Semua itu perlu kebiasaan, perhatian, dan konsistensi yang sering kali justru sulit dijaga.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, Camat Tanantovea, Kapolsek Labuan, Danramil Tawaeli, kepala sekolah, hingga berbagai stakeholder terkait lainnya.

Pada akhirnya, kegiatan seperti ini mungkin terlihat kecil. Hanya senam pagi, makan buah, dan minum tablet tambah darah bersama.

Tapi kadang kebangkitan memang dimulai dari hal-hal sederhana.

Dari remaja yang mulai sadar menjaga kesehatan. Dari sekolah yang peduli soal gizi siswanya. Dari pemerintah yang mau turun langsung, bukan cuma sibuk membuat slogan.

Sebab generasi sehat tidak lahir dari pidato panjang, melainkan lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus meski rasanya kadang pahit seperti tablet tambah darah itu sendiri. (*)

(Teks/Editor: AULIA AM / Foto: IST)

Related Posts

Hari Lahir Pancasila di Donggala, BPIP Ingatkan Nilai Pancasila Tak Sekadar Seremoni

DONGGALA MEDIA…

Gagal Raih Apresiasi Kemendagri, Ketua Komisi I DPRD Donggala Minta Pemkab Fokus Benahi Inflasi, Kemiskinan dan Pengangguran

DONGGALA MEDIA…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *