Fauziah Yusuf Optimistis Perpustakaan Masa Depan Donggala Lahirkan Generasi Kritis dan Bebas Hoaks

DONGGALA MEDIA – Momentum peringatan Hari Buku Nasional pada 17 Mei 2026 menjadi refleksi penting bagi kondisi literasi di Kabupaten Donggala.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Pemkab Donggala, Fauziah Yusuf, mengakui tantangan pembangunan budaya membaca masih cukup besar, namun ia tetap optimistis masa depan literasi Donggala dapat berkembang lebih baik.

Dalam wawancara dengan Donggala Media pada Sabtu (16/5/2026), Fauziah menyebut kendala utama yang dihadapi Donggala adalah luasnya wilayah geografis yang membuat pemerataan akses terhadap buku berkualitas belum maksimal.

“Kita harus mengakui tantangannya masih cukup besar. Sebagai wilayah dengan sebaran geografis yang luas, pemerataan akses terhadap buku berkualitas di Donggala masih menjadi kendala utama,” ujarnya.

Ia juga mengakui secara angka, indeks literasi dan minat baca masyarakat Donggala masih tergolong rendah. Buku belum sepenuhnya menjadi kebutuhan harian utama masyarakat.

“Indikator yang paling terlihat adalah hidupnya simpul-simpul baca di tingkat akar rumput,” katanya.

Meski demikian, Fauziah melihat adanya perkembangan positif melalui sinergi antara pemerintah daerah dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atau Perpusnas. Menurutnya, penguatan literasi mulai terlihat melalui penyaluran ribuan bahan bacaan ke sejumlah perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat (TBM).

Ia juga menyoroti lahirnya karya-karya lokal dari kalangan pelajar sebagai indikator meningkatnya budaya membaca dan menulis di Donggala.

“Keberhasilan beberapa siswa mampu menerbitkan buku karya mereka sendiri menjadi indikator nyata yang membanggakan,” ungkapnya.

Tidak hanya di sektor pendidikan formal, budaya membaca juga mulai diperluas ke sektor nonformal. Salah satunya melalui distribusi ratusan buku ke Rumah Tahanan Donggala.

Ubah Paradigma Lama tentang Perpustakaan

Fauziah menilai sebagian masyarakat masih memandang perpustakaan dengan paradigma lama sebagai ruangan penuh rak buku berdebu.

Karena itu, Dinas Perpustakaan dan Arsip dituntut melakukan transformasi agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.

“Dinas perpustakaan arsip tidak bisa lagi menggunakan cara-cara konvensional. Kita harus bisa beradaptasi dan menggunakan media sosial serta membuat konten kreatif yang relevan dengan tren anak-anak muda,” tegasnya.

Menurutnya, saat ini fokus utama pemerintah adalah memperkuat infrastruktur literasi, mendekatkan buku ke desa-desa, serta mengoptimalkan berbagai program inovatif untuk meningkatkan minat baca anak-anak.

Walaupun kondisi literasi Donggala masih memprihatinkan, Fauziah menilai daerah ini memiliki potensi besar untuk berkembang.

“Tugas kita saat ini bukan lagi sekadar mengeluhkan angka yang rendah, melainkan mengeksekusi strategi-strategi nyata untuk mengubah kebiasaan membaca menjadi sebuah kebutuhan,” katanya.

Mobil Pusling dan Pojok Baca Desa Jadi Harapan

Fauziah menilai perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan literasi cukup baik. Hal itu terlihat dari dukungan fasilitas layanan perpustakaan, bantuan buku, hingga operasional mobil perpustakaan keliling atau pusling yang terus melayani masyarakat.

Ia menyebut beberapa desa juga sudah memiliki pojok baca dan menerima bantuan buku langsung dari Perpusnas.

“Semoga Hari Buku Nasional ini menjadi gong awal Dinas Perpustakaan dan Arsip berbenah melaksanakan program-program yang memastikan literasi benar-benar tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sebagai putri daerah Donggala sekaligus kepala dinas, Fauziah mengaku memiliki mimpi besar terhadap masa depan generasi muda Donggala.

“Saya ingin melihat anak-anak muda Donggala tumbuh menjadi generasi yang tidak mudah termakan hoaks di media sosial karena memiliki daya nalar kritis yang dibentuk dari kebiasaan membaca,” katanya.

Ia berharap generasi muda Donggala tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu menjadi produsen karya dalam bentuk tulisan maupun konten edukatif yang membanggakan daerah.

Peran Rumah, Sekolah dan DesaDalam momentum Hari Buku Nasional, Fauziah juga menyampaikan pesan khusus kepada orang tua, sekolah dan pemerintah desa untuk ikut terlibat membangun budaya membaca.

Menurutnya, rumah harus menjadi perpustakaan pertama bagi anak-anak.

“Dampingi anak tanpa gadget. Jadikan rumah sebagai tempat pertama di mana buku dihormati,” pesannya.

Ia juga mendorong sekolah menghidupkan budaya membaca melalui program membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.

Sementara kepada pemerintah desa, ia meminta agar ruang-ruang literasi dan lumbung baca desa kembali diaktifkan demi menyelamatkan masa depan generasi muda dari krisis informasi dan rendahnya budaya baca. (*)

(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: IST)

Related Posts

Ketua DPRD Donggala Dorong Buku Harmoni dengan Alam Jadi Acuan Kebijakan, Soroti Konflik Regulasi hingga Ekonomi Hijau

DONGGALA MEDIA…

Pertama Bertugas Kapolres Aditiya Minta Dukungan Forkopimda Donggala

DONGGALA MEDIA…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *