Hari Buku Nasional: Jamrin Abubakar Soroti Rendahnya Minat Baca dan Minimnya Keseriusan Pemerintah Bangun Literasi

DONGGALA MEDIA – Momentum peringatan Hari Buku Nasional yang jatuh setiap 17 Mei kembali menjadi pengingat penting tentang rendahnya budaya membaca masyarakat Indonesia.

Di tengah derasnya arus informasi digital dan media sosial, penulis buku sekaligus wartawan asal Donggala, Sulawesi Tengah, Jamrin Abubakar menilai kondisi literasi bangsa saat ini berada dalam situasi yang memprihatinkan.

Dalam wawancara dengan Donggala Media pada Jumat (15/5/2026), Jamrin secara lugas menyebut budaya baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah berdasarkan berbagai hasil survei internasional.

“Budaya baca masyarakat Indonesia saat ini memang rendah dari berbagai lembaga survei internasional berada di bawah standar, bahkan ada yang menyebut di antara 1.000 orang Indonesia hanya satu yang memiliki minat baca tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan media sosial dan budaya informasi instan turut mempercepat penurunan tradisi membaca mendalam, termasuk di kalangan pelajar dan mahasiswa.

“Mahasiswa membaca nanti kalau dapat tugas dari dosen baru mau membaca, itupun terkesan tidak tuntas. Setelah selesai kuliah cenderung tidak lagi membaca secara rutin,” katanya.

Ia menilai masyarakat kini lebih suka mencari informasi cepat melalui media sosial dibanding membaca buku atau sumber utuh yang lebih mendalam. Ironisnya, kondisi itu diperparah dengan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap sebagian media arus utama yang dinilai kadang menampilkan informasi kurang akurat.

Sebagai wartawan yang terbiasa bekerja dengan data dan fakta, Jamrin menegaskan rendahnya minat baca sangat berbahaya terhadap kualitas berpikir masyarakat.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis tidak mungkin tumbuh tanpa budaya membaca yang kuat.

“Memahami masalah sosial, keagamaan, budaya maupun politik tidak cukup hanya dilihat secara kasat mata. Semua perlu pendalaman melalui bacaan, pengalaman dan sejarah berbagai peristiwa terdahulu,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahaya besar ketika masyarakat lebih percaya potongan informasi media sosial dibanding membaca sumber lengkap.

Menurutnya, kondisi itu menjadi ancaman serius bagi kualitas demokrasi dan pendidikan publik.

“Kalau regulasi demokrasi hanya dipahami sepotong-sepotong dari media sosial, maka akan menimbulkan tafsir liar,” tegasnya.

Karya Literasi Donggala Justru Diminati dari Luar Daerah

Jamrin turut membagikan pengalamannya sebagai penulis buku bertema lokal Donggala. Ia mengaku justru banyak pembacanya berasal dari luar daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, Makassar hingga Kota Palu.

Karya-karyanya bahkan beberapa kali menjadi bahan diskusi komunitas literasi, lomba resensi mahasiswa, hingga bahan lomba bertutur tingkat SD/MI di Kota Palu. Sejumlah mahasiswa juga menjadikan bukunya sebagai referensi skripsi dan kajian ilmiah.

Namun di balik apresiasi tersebut, ia mengaku tantangan terbesar menjadi penulis di daerah adalah sulitnya menjadikan profesi penulis sebagai sumber penghidupan utama.

“Pemasaran karya sangat sulit, sehingga penulis mesti kreatif memasarkan sendiri melalui media sosial dan jaringan pertemanan,” katanya.

Kritik Keras untuk Pemerintah Donggala

Dalam momentum Hari Buku Nasional, Jamrin juga melontarkan kritik terhadap keseriusan pemerintah daerah dalam membangun budaya literasi, khususnya di Kabupaten Donggala.

“Budaya literasi kita di Donggala selama ini belum diseriusi pemerintah, kadang hanya masih pada slogan,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah belum menjadikan literasi sebagai program prioritas, baik dalam penganggaran maupun kebijakan nyata di lapangan. Akibatnya, kegiatan literasi lebih banyak bersifat seremonial.

Jamrin mencontohkan minimnya partisipasi Donggala dalam festival dan lomba literasi tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di Kota Palu, padahal jarak Donggala sangat dekat dibanding daerah lain seperti Buol, Banggai Kepulauan hingga Morowali yang justru rutin hadir.

“Itu bukti kecil tidak serius,” katanya.

Ancaman Hoaks dan Hilangnya Peradaban

Jamrin juga mengaitkan rendahnya budaya membaca dengan maraknya hoaks di media sosial. Ia menilai banyak informasi keliru beredar karena masyarakat membaca secara tidak tuntas.

Ia bahkan mencontohkan adanya tulisan di media sosial yang mengutip novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA yang disebut-sebut menulis Donggala sebagai kota pelabuhan terkenal, padahal menurutnya narasi itu tidak pernah ada dalam novel tersebut.

“Itu tanda kalau orang yang menulis status itu tidak pernah membaca bukunya,” ujarnya.

Menurut Jamrin, jika minat baca terus menurun, maka dampaknya bukan hanya pada kualitas berpikir masyarakat, tetapi juga dapat menghancurkan ekosistem industri buku dan peradaban manusia itu sendiri.

“Kalau suatu saat tidak ada lagi orang membaca, maka ada mata rantai sosial dan ekonomi yang hilang. Industri penerbitan bisa mati, penulis kehilangan ruang hidup, dan akhirnya peradaban manusia ikut hilang,” tuturnya.

Ia menegaskan, pemikiran dan ilmu pengetahuan hanya bisa diwariskan secara abadi melalui tulisan dan buku.

“Hanya pemikiran yang dibukukanlah yang bisa menjadi warisan abadi,” pungkasnya. (*)

(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: IST)

Related Posts

Ketua DPRD Donggala Dorong Buku Harmoni dengan Alam Jadi Acuan Kebijakan, Soroti Konflik Regulasi hingga Ekonomi Hijau

DONGGALA MEDIA…

Pertama Bertugas Kapolres Aditiya Minta Dukungan Forkopimda Donggala

DONGGALA MEDIA…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *