DONGGALA MEDIA — Perdebatan tentang kebutuhan paling mendesak bagi siswa dari keluarga kurang mampu kembali menjadi sorotan publik setelah munculnya berita tragis tentang seorang siswa kelas 4 Sekolah Dasar di NTT yang mengakhiri hidupnya karena tidak dibelikan buku dan pena oleh sang ibu. Kejadian tersebut membuka diskusi penting: apakah yang lebih urgent bagi siswa kurang mampu — seragam sekolah atau buku tulis?
Pertanyaan ini saya ajukan kepada suami saya, yang sehari-hari mengabdi sebagai guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jawaban yang ia berikan mungkin tidak terduga bagi sebagian orang.
“Seragam,” jawabnya singkat ketika saya bertanya mana yang menurutnya lebih penting.
Menurutnya, di sekolah tempat ia mengajar, banyak siswa masih bisa membeli buku meskipun berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, seragam menjadi syarat mutlak kehadiran.
“Kalau seragam tidak ada, mereka tidak akan berangkat ke sekolah. Itu wajib” ujarnya, menjelaskan berdasarkan pengalaman lapangan.
Pendapat tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun jika ditinjau dari perspektif hak belajar dan keberlangsungan proses pembelajaran, buku tulis justru memiliki urgensi yang lebih tinggi.
Buku Tulis: Kebutuhan Dasar Proses Belajar
Buku tulis merupakan alat utama siswa dalam mencatat pelajaran, mengerjakan tugas dan mengikuti pembelajaran sehari-hari. Tanpa buku tulis, siswa kesulitan mencatat materi, mengerjakan tugas dan mengikuti pelajaran secara aktif. Berbeda dengan seragam yang masih dapat disiasati—dipakai bergantian, diwariskan, diperbaiki atau mendapat toleransi sekolah—buku tulis bersifat habis pakai dan harus tersedia secara berkelanjutan.
Ketiadaan buku tulis juga berdampak pada kondisi psikologis siswa. Anak bisa merasa minder, tertinggal pelajaran, hingga dicap tidak siap belajar, padahal masalah utamanya adalah keterbatasan ekonomi keluarga.
Konteks Pendidikan Kabupaten Donggala
Jumlah sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Donggala cukup besar, yaitu 377 SD dan 129 SMP, total 505 satuan pendidikan di pendidikan dasar formal (sumber: Data Referensi Kemendikdasmen). Artinya, kebutuhan alat belajar dasar menjangkau puluhan ribu anak di seluruh wilayah Donggala.
Tantangan pendidikan di daerah ini juga masih besar. Data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) terhadap tingkat pendidikan menunjukkan hanya sekitar 4,01% penduduk Kabupaten Donggala yang memiliki pendidikan tinggi pada akhir 2024, sementara lebih dari 23% belum pernah bersekolah atau belum tamat SD (sumber: Databoks).
Angka-angka ini menggarisbawahi pentingnya akses pendidikan yang berkualitas dan berkesinambungan dari jenjang paling dasar.
Dukungan Kebijakan dan Sinergi Bantuan Pendidikan
Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan berbagai skema bantuan. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), misalnya, memungkinkan sekolah menyediakan alat pembelajaran yang menunjang proses belajar mengajar, termasuk alat tulis dan bahan ajar.
Selain itu, terdapat Program Indonesia Pintar (PIP) yang memberikan bantuan tunai kepada siswa kurang mampu agar dapat membeli kebutuhan sekolah. Keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) juga memperoleh dukungan sosial untuk memastikan anak tetap bersekolah.
Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menggulirkan program bantuan seragam sekolah gratis, sementara dukungan lain datang dari Baznas yang menyalurkan bantuan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu.
Beragam program tersebut telah menunjukkan bahwa seragam sekolah relatif telah mendapat perhatian melalui berbagai jalur bantuan.
Menentukan Skala Prioritas
Seragam sekolah memang penting sebagai identitas dan simbol kedisiplinan. Namun, dalam situasi keterbatasan ekonomi, buku tulis merupakan kebutuhan paling mendasar yang langsung menentukan apakah proses belajar dapat berlangsung atau tidak.
Ketika seragam tidak tersedia, masih ada ruang toleransi. Namun ketika buku tulis tidak ada, aktivitas belajar praktis terhenti.
Pendidikan yang adil bukan hanya soal kehadiran di sekolah, tetapi tentang memastikan setiap anak benar-benar bisa belajar.
Buku tulis adalah akses pertama menuju pendidikan yang setara, sedangkan seragam menjadi simbol penyertaan sosial yang mendukung perjalanan itu.*
Penulis: Aulia A. Marisa


