DONGGALA MEDIA — Malam di Masjid Jami Al-Huda, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Jumat (27/2/2026), terasa sedikit lebih ramai dari biasanya. Bukan cuma karena Ramadan memang selalu membawa keramaian, tapi juga karena rombongan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah (Sulteng) turun langsung lewat agenda Safari Ramadan. Dari atas mimbar hingga barisan saf paling belakang, pesan yang dibawa kurang lebih sama: ukhuwah dirawat, program dipacu.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala diwakili oleh Wakil Bupati (Wabup)Taufik M. Burhan yang hadir berdampingan dengan Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Ketua TP PKK Provinsi Sry Nirwanti Bahasoan, Wakil Gubernur (Wagub) Reny A. Lamadjido, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Novalina, serta jajaran OPD Pemprov. Lengkap seperti biasanya kalau pemerintah sedang ingin memastikan pesan pembangunan sampai ke telinga publik.
Mengusung tema yang cukup religius: “Melalui Safari Ramadan Kita Tingkatkan Ukhuwah Islamiah dan Upaya Meraih Sulawesi Tengah yang Berkah”, acara ini bukan sekadar safari seremonial. Mimbar juga dipakai untuk memamerkan capaian pembangunan.
Dalam sambutannya, Gubernur Anwar Hafid memaparkan sejumlah indikator yang diklaim menunjukkan tren positif. Mulai dari peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi yang disebut tetap terjaga, hingga upaya penurunan angka kemiskinan. Semua itu, kata gubernur, digerakkan melalui paket program prioritas yang dibungkus dalam konsep 9 Berani (Nawa Cita Berani).
Bahasanya tentu optimistis. Dan seperti lazimnya forum Ramadan, optimisme itu dibungkus dengan narasi keberkahan.
Namun yang menarik justru datang dari respons Pemkab Donggala. Taufik tidak sekadar hadir sebagai tuan rumah. Namun secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap salah satu program unggulan Provinsi Sulawesi Tengah: Berani Berkah.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Donggala dan Ibu Bupati Vera Elena Laruni, kami siap mendukung program Berani Berkah,” ujar Taufik di hadapan jamaah.
Bagi Pemkab Donggala, program ini dianggap nyambung dengan agenda penguatan karakter keagamaan yang sudah lebih dulu dijalankan di Donggala. Taufik menyebut dua program yang kini sedang didorong serius itu adalah Satu Desa Satu Hafidz dan Gerakan Siswa Cinta Masjid.
Logikanya sederhana tapi ambisius. Kalau infrastruktur membangun fisik daerah, maka penguatan karakter, terutama berbasis nilai keagamaan, diposisikan sebagai investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia.
“Ini investasi jangka panjang pembangunan SDM,” tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus memberi sinyal bahwa Donggala tidak ingin hanya jadi penonton dalam orkestrasi program provinsi. Mereka memilih masuk barisan, khususnya untuk isu penguatan nilai religius.
Di ujung acara, seperti yang sudah bisa ditebak dari pola Safari Ramadan pemerintah daerah mana pun, ada sesi penyerahan bantuan. Pemprov Sulteng menyalurkan bantuan kepada masyarakat dan pengurus masjid.
Secara simbolik ini penting. Bagi pemerintah, ini bukti kehadiran negara. Bagi masyarakat, ini bentuk perhatian yang konkret, meski skalanya sering kali lebih terasa sebagai pemantik daripada solusi tuntas.
Acara berlangsung khidmat. Jamaah duduk rapi, pejabat bergantian menyampaikan sambutan dan narasi besar tentang Sulawesi Tengah yang berkah terus digaungkan.
Yang jelas, Safari Ramadan di Labuan Donggala kali ini bukan cuma soal silaturahmi. Tetapi juga menjadi panggung sinkronisasi program antara provinsi yang membawa jargon Berani dan kabupaten yang mencoba menyesuaikan langkah.
Apakah kolaborasi ini nanti benar-benar terasa dampaknya sampai ke level warga? Itu tentu PR berikutnya. Ramadan boleh menghadirkan suasana hangat, tapi publik biasanya menunggu sesuatu yang lebih dingin dan konkret yakni hasil.*
(Teks: Aulia AM / Foto: IST / Editor: Wahid Agus)


