Panen Raya Siboang Bukan Sekadar Seremoni Kadis Pertanian Donggala Beberkan Data Program dan Tantangan Nyata

DONGGALA MEDIA – Kegiatan panen raya padi sawah yang dihadiri Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, di Desa Siboang, Kecamatan Sojol, tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala menegaskan bahwa agenda tersebut menjadi ruang terbuka bagi petani untuk menyampaikan langsung persoalan riil yang mereka hadapi di lapangan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Donggala, Anhar, S.Hut., M.Si, menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung pada 15 April 2026 itu justru diinisiasi oleh masyarakat setempat, bukan agenda formal pemerintah semata.

“Panen raya ini merupakan inisiatif masyarakat Siboang. Pemerintah daerah diundang untuk hadir dan momentum utamanya adalah temu wicara antara petani dan pemerintah yang langsung dipimpin oleh Bupati Donggala,” ungkap Anhar kepada Donggala Media pada Senin (4/5/2026).

Dalam forum tersebut, petani menyampaikan berbagai persoalan mulai dari irigasi, produksi hingga pemasaran hasil panen.

Menurut Anhar, hal ini menjadi indikator bahwa kegiatan tersebut memiliki dampak langsung, bukan sekadar simbolis.

Anggaran Pertanian Masih Menunggu Penyesuaian

Terkait komitmen anggaran, Kadis Anhar mengungkapkan bahwa Pemkab Donggala telah mengalokasikan sekitar Rp4,8 miliar pada APBD 2026 untuk sektor pertanian. Namun, realisasi anggaran tersebut masih menunggu penyesuaian akibat penggabungan organisasi perangkat daerah.

“Anggaran sekitar Rp4,8 miliar sudah dialokasikan, tetapi realisasinya masih menunggu pergeseran kedua APBD karena adanya penggabungan Dinas Tanaman Pangan dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan,” jelasnya.

Strategi Menuju Swasembada Pangan

Dalam upaya mendukung target swasembada pangan 2026, pemerintah daerah mendorong peningkatan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali tanam dalam setahun. Selain itu, penggunaan bibit unggul dan program cetak sawah baru juga menjadi fokus utama.

Di sisi lain, persoalan klasik seperti harga gabah saat panen raya juga diakui masih menjadi tantangan. Untuk mengatasinya, pemerintah menggandeng Perum Bulog, BUMDes, serta koperasi desa agar berperan sebagai pembeli hasil panen petani.

“Jaminan stabilitas harga dilakukan melalui Bulog, BUMDes, dan koperasi. Kami juga menyediakan sarana pascapanen seperti combine harvester dan alat mesin pertanian lainnya,” ujar Anhar.

Infrastruktur dan Irigasi Masih Jadi Sorotan

Meski secara umum infrastruktur pertanian di wilayah Sojol dinilai cukup memadai, Kadis Anhar tidak menampik bahwa peningkatan masih diperlukan, terutama pada sektor irigasi.

“Keluhan paling dominan dari petani adalah pengairan. Kami sudah menindaklanjuti dengan mengusulkan program pompanisasi dan rehabilitasi irigasi ke Kementerian Pertanian,” katanya.

Regenerasi Petani dan Program Berkelanjutan

Untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian, Pemkab Donggala mulai mendorong keterlibatan generasi muda melalui program “Petani Milenial” dan “Brigade Pangan”.

Program ini melibatkan anak muda dalam aktivitas pertanian modern, termasuk pengolahan lahan dan peternakan. Selain itu, inovasi “Agriculture Back To School” juga diperkenalkan untuk mengenalkan pertanian sejak usia dini di lingkungan sekolah.

Antisipasi Gagal Panen dan Perubahan Iklim

Menghadapi ancaman perubahan iklim, pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, di antaranya program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), penggunaan bibit unggul, pengendalian hama terpadu, hingga pendampingan penyuluh lapangan.

Tidak hanya itu, penguatan sistem irigasi melalui pompanisasi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Produksi Padi Fluktuatif, Distribusi Diperkuat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Kabupaten Donggala mengalami fluktuasi dalam tiga tahun terakhir, yakni 64.726 ton pada 2023, menurun jadi 55.890 ton pada 2024, namun kembali naik menjadi 69.380 ton pada 2025.

Untuk menjaga stabilitas pangan, pemerintah daerah memperkuat rantai distribusi melalui cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog, kerja sama antar daerah, serta pemanfaatan teknologi untuk memantau stok dan harga pangan secara real time.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pembentukan cadangan pangan pemerintah daerah (CPPD) serta diversifikasi pangan lokal guna mengurangi ketergantungan pada satu komoditas utama.

Antara Optimisme dan Pekerjaan Rumah

Pemaparan Kadis Pertanian ini menunjukkan bahwa di balik narasi optimisme swasembada pangan, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai dari irigasi, stabilitas harga, hingga konsistensi produksi.

Panen raya di Siboang pun menjadi lebih dari sekadar seremoni—ia menjadi cermin sejauh mana komitmen pemerintah diuji langsung oleh realitas di lapangan. (*)

(Teks: WAHID AGUS / Foto: IST / Editor: AULIA AM)

Related Posts

Hari Lahir Pancasila di Donggala, BPIP Ingatkan Nilai Pancasila Tak Sekadar Seremoni

DONGGALA MEDIA…

Gagal Raih Apresiasi Kemendagri, Ketua Komisi I DPRD Donggala Minta Pemkab Fokus Benahi Inflasi, Kemiskinan dan Pengangguran

DONGGALA MEDIA…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *