Ketika Siswa SMP Disuruh Speaking, Tapi “My Name Is” Saja Masih Grogi

DONGGALA MEDIA – Ada satu momen yang mungkin terdengar sepele bagi orang dewasa, tetapi cukup bikin guru Bahasa Inggris menarik napas panjang.

“Okay, introduce yourself in English.”

Kelas mendadak hening.

Bukan hening karena semua siswa sedang berpikir keras. Lebih mirip hening ketika guru bertanya, “Siapa yang belum mengerjakan PR?” lalu seluruh kelas mendadak memiliki kemampuan spiritual untuk menyatu dengan meja.

Saya mengalami situasi semacam ini sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu SMP di Kabupaten Donggala.

Secara teori, memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris mestinya bukan perkara yang bikin dunia pendidikan runtuh. Kalimat seperti My name is…, I am from…, I am … years old, atau My hobby is… adalah materi yang sangat dasar.

Masalahnya, kata “dasar” ternyata memiliki definisi yang berbeda antara kurikulum dan ruang kelas.

Di atas kertas, mungkin anak sudah berada pada fase yang menuntut kemampuan tertentu. Di dalam kelas, sebagian anak bahkan masih bertanya bagaimana mengatakan “umur saya 13 tahun” dalam Bahasa Inggris.

Di sinilah guru kadang merasa seperti sedang bermain game dengan level yang tidak sesuai.

Kurikulum bilang: lanjut.

Anak bilang: “Pak, hobby itu apa?”

Guru: menghela napas.

Anak SMP, Tapi Fondasinya Masih SD

Salah satu persoalan yang sering saya temui adalah kemampuan awal siswa yang sangat beragam.

Ada siswa yang sudah mengenal kosakata Bahasa Inggris dari YouTube, gim, lagu, media sosial, atau pengalaman belajar sebelumnya. Ada pula siswa yang jangankan membuat kalimat, membaca kata school saja masih perlu mengeja dengan penuh perjuangan.

Ini bukan soal siapa yang rajin dan siapa yang malas.

Latar belakang siswa memang berbeda-beda. Pengalaman belajar mereka tidak lahir dari cetakan yang sama. Akses terhadap sumber belajar berbeda, lingkungan keluarga berbeda, kebiasaan berbeda, dan kemampuan awal pun berbeda.

Tetapi ketika masuk SMP, mereka berada di ruang kelas yang sama.

Kemudian datanglah tuntutan pembelajaran berdasarkan fase.

Di sinilah persoalan mulai menarik.

Guru diminta mengajarkan kompetensi sesuai fase, tetapi pada saat yang sama harus berhadapan dengan siswa yang belum menguasai prasyarat kompetensi tersebut.

Mau mengejar materi, fondasi belum kuat.

Mau memperbaiki fondasi, materi berjalan terus.

Kalau terlalu fokus pada fondasi, khawatir dianggap tidak menyelesaikan materi. Kalau terlalu mengejar materi, siswa malah tidak benar-benar memahami apa yang sedang dipelajari.

Akhirnya guru seperti orang yang diminta berlari, tetapi sambil membetulkan tali sepatu anak-anak yang belum bisa berjalan.

Ketika “Speaking” Berubah Menjadi Ujian Mental

Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, persoalannya bukan hanya apakah siswa tahu kosakata. Ada faktor lain yang sering luput: keberanian. Siswa yang sebenarnya tahu jawabannya belum tentu mau berbicara.

Mengapa?

Takut salah.

Takut ditertawakan.

Takut pengucapannya dianggap lucu.

Takut teman berkata, “Ih, sok Inggris!”

Padahal bahasa memang dipelajari dengan cara salah, diperbaiki, lalu mencoba lagi.

Tidak ada manusia yang tiba-tiba bangun tidur dan langsung fasih menggunakan bahasa asing.

Masalahnya, kelas kadang belum menjadi ruang yang cukup aman untuk melakukan kesalahan.

Ketika guru meminta siswa memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris, sebagian siswa memilih diam. Diam itu kemudian mudah sekali diterjemahkan sebagai “tidak mampu”.

Padahal bisa jadi masalahnya bukan ketidakmampuan, melainkan belum adanya fondasi dan rasa percaya diri.

Maka pertanyaannya: apakah siswa yang diam selalu berarti tidak bisa?

Atau jangan-jangan diam itu sedang memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang belum selesai dari pembelajaran sebelumnya?

Kita Sering Sibuk Menilai, Lupa Bertanya: “Sudah Siap Belajar?”

Ini bukan hanya masalah Bahasa Inggris. Matematika juga begitu.

Kita bisa meminta siswa memahami konsep yang lebih rumit, tetapi ternyata perkalian dasar masih menjadi arena pertarungan hidup dan mati. Kalau perkalian saja belum lancar, kemudian siswa diminta menyelesaikan persoalan yang membutuhkan beberapa operasi sekaligus, siapa yang salah?

Siswa?

Guru?

Kurikulum?

Atau mungkin kita yang terlalu cepat menganggap bahwa semua anak berangkat dari garis start yang sama?

Pendidikan memang membutuhkan standar. Tanpa standar, kita bisa saja berjalan ke mana-mana sambil merasa sedang menuju tujuan. Tetapi standar tidak boleh membuat kita lupa bahwa peserta didik bukanlah barang produksi yang keluar dari mesin dengan spesifikasi seragam.

Anak-anak datang ke sekolah membawa pengalaman belajar masing-masing. Ada yang sudah punya fondasi. Ada yang masih membangun fondasi. Ada pula yang bahkan belum tahu bahwa fondasi itu penting.

Dan guru adalah orang yang berhadapan langsung dengan kenyataan tersebut setiap hari.

Guru Bukan Sekadar Pelaksana Materi

Menurut saya, guru perlu diberi ruang untuk membaca kondisi nyata peserta didik sebab guru bukan hanya orang yang membuka buku, menyampaikan materi, lalu memberi nilai.

Guru melihat bagaimana siswa bereaksi ketika diminta berbicara. Guru tahu siapa yang sebenarnya paham tetapi malu. Guru tahu siapa yang membutuhkan pengulangan. Guru tahu siapa yang perlu mulai dari kosakata paling sederhana sebelum masuk ke teks yang lebih kompleks.

Karena itu, pertanyaan dalam pembelajaran seharusnya tidak berhenti pada:

“Materi apa yang harus saya ajarkan?”

Tetapi juga:

“Apa yang harus dimiliki siswa agar mereka mampu mempelajari materi itu?”

Ini terdengar sederhana. Tetapi justru hal-hal sederhana semacam ini sering menjadi perkara paling rumit di ruang kelas. Sebab pendidikan bukan sekadar menyelesaikan daftar materi.

Kalau siswa belum punya cukup kosakata, beri mereka kosakata.

Kalau belum memahami frasa sederhana, bangun dari frasa sederhana.

Kalau belum berani berbicara, ciptakan ruang untuk mencoba tanpa takut dipermalukan.

Kalau belum menguasai dialog dasar, jangan buru-buru melempar mereka ke teks yang panjang.

Kita ingin anak bisa berlari, tetapi jangan marah ketika mereka masih sibuk belajar berdiri.

Kabar Baik: Bahasa Inggris Jangan Baru Dikenalkan Ketika Sudah SMP

Karena itulah saya melihat penguatan pembelajaran Bahasa Inggris sejak sekolah dasar sebagai sesuatu yang penting. Bukan supaya anak-anak SD bisa mendadak menjadi bule lokal. Bukan pula supaya mereka bisa menyelipkan actually, basically, dan literally dalam setiap percakapan.

Tujuannya jauh lebih sederhana: membangun fondasi.

Jika sejak SD anak sudah akrab dengan kosakata, ungkapan sehari-hari, percakapan sederhana, pengucapan, dan keberanian menggunakan Bahasa Inggris, maka guru SMP tidak perlu selalu memulai dari titik nol.

Ini bukan berarti semua anak SD harus sudah mahir ketika masuk SMP.

Tidak.

Fondasi tidak sama dengan kemahiran. Fondasi adalah bekal agar bangunan berikutnya bisa berdiri.

Dalam regulasi kurikulum, Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 memang mengatur Bahasa Inggris di SD sebagai mata pelajaran pilihan berdasarkan kesiapan satuan pendidikan pada masa transisi, sebelum menjadi mata pelajaran wajib mulai tahun ajaran 2027/2028. Ketentuan tersebut kemudian menjadi bagian dari perubahan melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025.

Bagi guru SMP, arah kebijakan semacam ini tentu bisa menjadi kabar baik, dengan catatan pelaksanaannya benar-benar memperhatikan kesiapan sekolah, guru, dan peserta didik.

Sebab jangan sampai kita hanya memindahkan masalah dari kelas VII ke kelas IV.

Yang dibutuhkan bukan sekadar memajukan kapan materi diberikan, melainkan membangun kesinambungan pembelajaran.

Jangan Sampai Pendidikan Menjadi Lomba Mengejar Materi

Saya kira kita perlu mengubah sedikit cara pandang terhadap capaian pembelajaran. Capaian pembelajaran penting. Kurikulum penting. Standar juga penting.

Tetapi anak tetap lebih penting.

Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah membuat guru bisa mengatakan, “Materi saya sudah selesai.”

Tujuan pendidikan adalah membuat siswa benar-benar memperoleh kemampuan yang bisa mereka gunakan.

Untuk Bahasa Inggris, misalnya, kemampuan itu tidak berhenti pada kemampuan mengerjakan soal. Siswa perlu mampu memahami, merespons, berbicara, membaca, menulis, dan—yang tidak kalah penting—berani mencoba.

Kalau seorang anak akhirnya berani mengatakan, “My name is Ahmad,” meskipun pengucapannya belum sempurna, menurut saya itu bukan kegagalan. Itu kemajuan. Sebab keberanian menggunakan bahasa adalah bagian dari proses penguasaan bahasa.

Dan kalau hari ini dia baru bisa mengatakan My name is Ahmad, mungkin besok dia bisa mengatakan I am from Donggala. Lusa mungkin bisa bercerita tentang keluarganya.

Beberapa tahun kemudian, mungkin ia bisa menggunakan Bahasa Inggris untuk kuliah, bekerja, membaca pengetahuan, atau berkomunikasi dengan orang dari negara lain.

Semuanya bermula dari kalimat yang sangat sederhana.

My name is…

Karena Anak Bukan Kurikulum Berjalan

Barangkali masalah terbesar dalam pembelajaran bahasa asing bukan karena Bahasa Inggris terlalu sulit. Bisa jadi kita saja yang terlalu sering lupa bahwa belajar bahasa membutuhkan proses.

Anak tidak bisa dipaksa memiliki kemampuan yang belum pernah dibangun. Kita juga tidak bisa mengukur kemampuan berbicara hanya dari keberanian siswa menjawab ketika tiba-tiba ditunjuk di depan kelas. Dan kita tidak bisa menganggap semua siswa sudah memiliki fondasi hanya karena mereka sudah duduk di jenjang pendidikan tertentu.

Kelas VII bukan jaminan bahwa semua siswa memiliki kemampuan yang sama. Usia 13 tahun juga bukan tombol ajaib yang otomatis mengubah seseorang menjadi pembelajar Bahasa Inggris.

Karena itu, mungkin yang perlu kita kejar bukan semata-mata “materinya sudah sampai mana”, tetapi “anak-anak sudah siap sampai mana”.

Sebab pendidikan bukan perlombaan menyelesaikan buku. Pendidikan adalah proses membangun manusia, dan dalam proses membangun manusia, fondasi bukan pekerjaan yang boleh dilewati hanya karena kita sudah terlalu ingin melihat lantai dua.

Kalau fondasinya rapuh, lantai dua memang bisa saja dibangun.

Tetapi jangan kaget kalau suatu hari bangunannya ikut protes.

Dan biasanya, yang pertama kali diminta memperbaikinya lagi-lagi guru. (*)

Oleh: Muhammad Faizal, S.Pd., Gr
Guru SMPN 3 Banawa

(Editor: AULIA AM / Foto: Doc. MUHAMMAD FAIZAL)

Related Posts

Lebih Setahun Setelah Diluncurkan, Kamus Bahasa Dampelas Belum Masuk Sekolah di Donggala
  • Agustus 14, 2026

DONGGALA MEDIA…

Continue reading
Di Bawah Matahari PAN, Saya Merasakan Hangatnya Persahabatan Antarpartai
  • Agustus 3, 2026

DONGGALA MEDIA…

Continue reading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *