DONGGALA MEDIA – Hari Minggu, 2 Agustus 2026, menjadi salah satu hari yang berkesan bagi saya. Pagi itu, saya menghadiri Pembukaan RAKERDA I DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Donggala yang dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus DPC PAN se-Kabupaten Donggala di Oasis Donggala.
Beberapa hari sebelumnya, undangan digital dikirimkan langsung oleh Sekretaris DPD PAN Donggala, Rofandi.
Saya hadir mewakili Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Donggala, Moh. Yasin, S.Sos., M.AP.
Saya menjalankan tugas sebagai Wakil Sekretaris DPC Partai Gerindra Kabupaten Donggala sekaligus Kepala Sekretariat Kantor DPC Partai Gerindra Kabupaten Donggala.
Suasana acara terasa hangat sejak awal. Tepat pukul 10.00 Wita, rombongan DPW PAN Sulawesi Tengah tiba dan disambut meriah oleh tarian penjemputan dan sorak sorai para kader PAN yang memenuhi ruangan Oasis.
Hadir Ketua DPW PAN Sulawesi Tengah, Sarifuddin Sudding, Ketua Harian DPW PAN Sulawesi Tengah, Rony Tanusaputra, beserta jajaran pengurus lainnya.
Bagi saya, kehadiran Rony Tanusaputra memiliki cerita tersendiri.
Kami pernah duduk di bangku kelas yang sama saat menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Donggala (Banawa).
Kini, perjalanan hidup membawa kami berada di panggung politik yang berbeda, namun tali persahabatan tetap terjalin dengan baik.
Rony yang dulu saya dan teman lainnya memanggil namanya; Baco, juga merupakan suami Bupati Donggala, Vera Elena Laruni.
Saya juga cukup kenal dengan Ketua DPD PAN Donggala, Vera Elena Laruni ini.
Beliau adalah kakak kelas saya ketika sama-sama menempuh pendidikan di SMEA Negeri Palu, yang kini dikenal sebagai SMK Negeri 2 Palu.
Rasanya menyenangkan melihat orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan masa sekolah, kini mengemban amanah besar untuk kemajuan daerah.
Acara ini juga dihadiri Wakil Bupati Donggala, Taufik M. Burhan yang mewakili Pemerintah Kabupaten Donggala, jajaran Forkopimda seperti Kapolres Donggala dan Kajari Donggala, pengurus DPD PAN, pengurus DPC PAN dari 16 kecamatan, relawan PAN, serta para tamu undangan dari berbagai partai politik, di antaranya Gerindra, PKS, PDI Perjuangan, NasDem, Demokrat, dan Gelora.
Rangkaian kegiatan berlangsung khidmat. Mulai dari penyambutan rombongan DPW PAN Sulawesi Tengah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, pelantikan pengurus DPC PAN se-Kabupaten Donggala, hingga sambutan-sambutan.
Namun, ada satu momen yang benar-benar mengejutkan sekaligus mengesankan.
Seluruh perwakilan partai politik yang hadir diminta naik ke atas panggung untuk menyampaikan sepatah dua kata.
Menurut saya, ini adalah pemandangan yang sangat langka dalam kegiatan resmi sebuah partai politik.
Panggung yang biasanya menjadi ruang eksklusif tuan rumah, justru dibuka seluas-luasnya bagi partai-partai lain yang mereka sebut sebagai “partai sahabat PAN”.
Enam perwakilan partai politik—PKS, NasDem, Gerindra, PDI Perjuangan, Gelora, dan Demokrat—berbaris rapi di atas panggung.
Saya mendapat kehormatan untuk mewakili seluruh partai politik yang hadir menyampaikan sambutan.
Dalam kesempatan itu, pertama-tama saya menyampaikan permohonan maaf dari para ketua partai politik yang berhalangan hadir karena pada waktu yang sama telah memiliki agenda lain yang lebih dahulu dijadwalkan.
Saya kemudian menyampaikan apresiasi kepada PAN yang telah memberikan ruang kepada partai-partai lain untuk berdiri di podium kehormatan. Bagi saya, inilah bentuk penghormatan yang luar biasa terhadap semangat demokrasi dan persaudaraan politik.
Lalu saya mengaitkan suasana itu dengan filosofi logo PAN.
Saya mengatakan bahwa matahari sebagai lambang PAN tidak memilih siapa yang akan disinari. Matahari memancarkan cahaya kepada seluruh isi bumi tanpa membeda-bedakan. Begitu pula yang saya rasakan pada hari itu.
Panggung yang seharusnya hanya menjadi milik PAN justru dibuka untuk seluruh partai politik sebagai simbol persahabatan dan kebersamaan.
Menjelang akhir sambutan, saya mencoba mencairkan suasana dengan sedikit humor.
Saya mengatakan bahwa beberapa hari terakhir cuaca di Donggala terasa begitu panas oleh matahari yang bersinar cerah.
Namun, hari itu suasana terasa lebih teduh karena kehadiran Ketua DPD PAN Donggala yang juga Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, yang cantik jelita.
Seketika ruangan dipenuhi tepuk tangan dan senyum para hadirin.
Bagi saya, politik tidak selalu harus diwarnai persaingan. Ada ruang-ruang di mana kebersamaan, saling menghormati, dan komunikasi yang baik harus terus dijaga.
Perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar, tetapi persaudaraan dan komitmen membangun Kabupaten Donggala harus tetap menjadi tujuan bersama.
Saya pulang dari acara itu dengan sebuah keyakinan sederhana: ketika komunikasi antarpartai dibangun dengan saling menghargai, maka demokrasi akan tumbuh lebih dewasa, dan masyarakatlah yang akan merasakan manfaatnya. (*)
(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: MISNA)



