DONGGALA MEDIA – Hari Kartini sering kali terasa eksklusif, padahal semangat Raden Ajeng Kartini justru memperjuangkan akses pendidikan dan martabat bagi semua perempuan, bukan hanya yang punya posisi formal.
Hari ini media sosial mempertontonkan keceriaan para pegawai Perangkat Daerah Pemkab Donggala berkebaya warna warni begitu ceria di Hari Kartini 21 April 2026.
Upacara digelar, setelah itu ada yang berjoget musik ceria dan foto-foto berkebaya bertebaran dengan berbagai gaya.
Namun di balik gegap gempita itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan.
“Siapa saja perempuan yang tidak hadir dalam perayaan ini?”
Mereka adalah perempuan petani yang sejak subuh sudah di sawah, bukan di panggung seremoni. Mereka adalah nelayan perempuan yang bergelut dengan hasil tangkapan dan pasar, tanpa sempat mengenakan kebaya. Mereka adalah pelaku UMKM yang sibuk memutar modal kecil demi bertahan hidup. Mereka adalah buruh pabrik yang tetap bekerja di balik mesin dan ibu rumah tangga yang tidak pernah benar-benar “libur” dari kerja domestik.
Ironisnya, kelompok perempuan inilah yang justru paling dekat dengan realitas perjuangan yang dulu disuarakan Kartini: Keterbatasan akses, beban kerja berlapis dan minimnya pengakuan.
Mengapa mereka seolah tersisih?
Pertama, perayaan Hari Kartini telah bergeser menjadi simbolik dan seremonial.
Kebaya, lomba dan panggung formal lebih mudah diakses oleh kalangan ASN, TNI, Polri, atau pegawai BUMN. Mereka yang memang berada dalam sistem yang terorganisir dan memiliki waktu serta fasilitas untuk merayakan.
Kedua, ada bias kelas dalam cara kita merayakan emansipasi. Perempuan yang dianggap “maju” sering diidentikkan dengan pendidikan tinggi, jabatan dan kerapian simbolik.
Sementara perempuan pekerja sektor informal dianggap “biasa saja”, padahal kontribusi mereka nyata dan vital.
Ketiga, akses terhadap ruang publik tidak merata.
Perempuan di desa, di pesisir atau di sektor informal sering kali tidak punya ruang, waktu, bahkan undangan untuk ikut dalam perayaan. Mereka sibuk bertahan hidup, bukan merayakan simbol.
Keempat, narasi Kartini yang dipersempit.
Kartini sering direduksi menjadi ikon kebaya dan perempuan terdidik, padahal gagasannya jauh lebih radikal: kesetaraan berpikir, kebebasan menentukan hidup dan keberanian melawan struktur yang membatasi perempuan.
Lalu, apa maknanya Hari Kartini hari ini?
Jika perayaan hanya berhenti pada seremoni, maka Hari Kartini kehilangan rohnya. Ia menjadi milik segelintir perempuan yang “terlihat”, sementara yang lain tetap tidak terdengar.
Sudah saatnya perayaan ini bergeser:
bukan sekadar siapa yang paling anggun berkebaya,
tetapi siapa yang paling diperjuangkan haknya.
Hari Kartini seharusnya menjadi momen untuk:
mendengar suara perempuan petani dan nelayan,
memperkuat pelaku UMKM perempuan,
melindungi buruh perempuan dari ketidakadilan kerja,
serta mengakui kerja tidak terlihat para ibu rumah tangga.
Karena jika Kartini hidup hari ini, besar kemungkinan ia tidak hanya hadir di panggung-panggung resmi, tetapi juga duduk bersama mereka yang selama ini luput dari perhatian.
Hari Kartini bukan milik mereka yang punya waktu untuk merayakan,
tetapi milik semua perempuan yang terus berjuang, bahkan tanpa sempat dirayakan.*
(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: AI)


