DONGGALA MEDIA – Pembukaan turnamen sepak bola pria Berani Cup Donggala 2026 di Lapangan Persido Donggala, Senin (27/4/2026), berlangsung semarak.
Kehadiran Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, yang disambut hangat oleh Sekdakab Donggala Rustam Efendi memberi legitimasi politik bahwa olahraga khususnya sepak bola masih dianggap penting sebagai ruang konsolidasi sosial dan energi anak muda.
Namun, di balik seremoni pembukaan itu, ada realitas yang tidak bisa ditutup-tutupi yaitu sepak bola Donggala hari ini berada pada fase “hidup enggan, mati tak mau.”
Klub kebanggaan daerah, Persido Donggala, belum menunjukkan geliat prestasi yang berarti.
Minimnya pendanaan bukan lagi rahasia, melainkan penyakit kronis yang terus dibiarkan tanpa terapi serius.
Turnamen seperti Berani Cup memang penting. Dengan 24 tim yang terbagi dalam delapan grup (A–H), kompetisi ini menjadi oase bagi para pecinta sepak bola di Donggala Kota.
Lapangan Persido yang selama ini sepi latihan, kembali hidup oleh sorak-sorai dan semangat kompetisi. Tapi pertanyaannya: Apakah ini sekadar euforia sesaat atau benar-benar menjadi titik balik?
Sejak 2019 saat pelatih legendaris Donggala Firdaus Kindo berpulang kehadirat Allah SWT, telah meninggalkan lubang besar yang hingga kini belum terisi.
Ia bukan sekadar tokoh, tetapi motor penggerak. Sosok yang menjaga nyala latihan, membina usia muda, dan menanamkan idealisme dalam sepak bola lokal.
Sejak kepergiannya, denyut pembinaan terasa melemah. Tidak ada regenerasi pelatih yang mampu membawa semangat yang sama, bahkan mendekati pun belum.
Akibatnya jelas: pendidikan usia dini pesepakbola nyaris stagnan. Tanpa fondasi pembinaan, mimpi prestasi hanya jadi slogan. Turnamen boleh ramai, tapi tanpa sistem yang berkelanjutan, talenta-talenta muda hanya akan muncul sesaat lalu hilang tanpa arah.
Di titik ini, semoga Berani Cup tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.
Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan olahraga perlu jujur melihat akar masalah: Tata kelola, pendanaan dan regenerasi sumber daya manusia.
Jika tidak, maka turnamen ini hanya akan menjadi panggung nostalgia yang menghidupkan kenangan masa lalu tanpa benar-benar membangun masa depan.
Sepak bola Donggala tidak kekurangan bakat. Yang kurang adalah keberanian untuk membangun sistem. Apa lagi turnamen ini mengusung nama “Berani.”
Pertanyaannya sederhana: Beranikah semua pihak keluar dari zona nyaman dan mulai membenahi dari hulu?
Kalau tidak, maka Lapangan Persido akan terus menjadi saksi—ramai saat turnamen, sunyi saat pembinaan, dan kosong saat prestasi ditagih.*
(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: CLG)


