DONGGALA MEDIA – Di pintu masuk laut Kabupaten Donggala, tepatnya di Bundaran Pelabuhan Donggala Kelurahan Kabonga Kecil Kecamatan Banawa, berdiri sebuah tugu dengan desain kain tenun Donggala melilit berbahan plat besi bernuansa coklat tua.
Di bagian bawahnya tertulis kalimat “Donggala Kota Wisata” dan tanggal 12 Agustus 1952 sebagai hari lahir Kabupaten Donggala.
Tidak jauh dari situ, di lereng bukit menuju Kantor Bupati Donggala, tulisan besar “Donggala Kota Wisata” sudah lebih dulu terpampang sejak sekitar tahun 2017 dan tampak mencolok dari arah Teluk Palu.
Dua ikon itu bukan sekadar hiasan kota. Ia adalah pesan. Ia adalah pernyataan identitas. Bahkan bisa disebut sebagai janji pemerintah kepada publik bahwa Donggala ingin dikenali sebagai daerah tujuan wisata.
Masalahnya, sebuah ikon akan selalu melahirkan pertanyaan besar: Apakah realitas di lapangan sudah seindah tulisan yang dipasang?
Kalimat “Donggala Kota Wisata” sesungguhnya membawa beban moral yang berat. Sebab ketika seorang penumpang kapal laut pertama kali bersandar di Pelabuhan Donggala dan melihat tulisan besar itu dari kejauhan, maka yang muncul di pikirannya adalah harapan. Orang luar akan membayangkan kota pesisir yang tertata rapi, bersih, nyaman, hidup pada malam hari, memiliki kawasan kuliner khas, transportasi wisata, pusat oleh-oleh tenun Donggala, pantai yang terurus, pelayanan ramah, hingga agenda budaya yang aktif.
Namun pertanyaan kritisnya, apakah semua itu sudah benar-benar tersedia?
Sebab ikon wisata tanpa kesiapan wisata berpotensi hanya menjadi slogan visual.Indah dilihat, tetapi kosong dirasakan.Orang bisa kagum saat kapal mendekat, tetapi kesan itu dapat cepat berubah ketika turun ke daratan dan menemukan fasilitas umum yang belum memadai, kawasan pesisir yang belum tertata maksimal, sampah yang masih terlihat, minimnya hiburan keluarga, atau belum kuatnya identitas wisata yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Tulisan “Donggala Kota Wisata” juga menjadi pertanda bahwa pemerintah sebenarnya sedang mencoba mengubah wajah dan arah masa depan Donggala. Dari daerah administratif biasa menjadi daerah yang menjual keindahan alam, sejarah, budaya, dan keramahan masyarakatnya.
Apalagi kini Pelabuhan Donggala kembali aktif melayani kapal penumpang. Itu berarti pintu masuk manusia, ekonomi, dan perhatian publik kembali terbuka.
Tetapi sebuah kota wisata tidak lahir hanya dengan membangun tugu dan tulisan raksasa di bukit.Kota wisata lahir dari pengalaman pengunjung.
Wisatawan tidak hanya memotret ikon, mereka juga menilai jalan kotanya, keramahan warganya, keamanan malam harinya, kebersihan pantainya, kualitas UMKM-nya, hingga bagaimana pemerintah menjaga estetika wilayahnya.
Bahkan toilet umum dan penerangan jalan bisa menentukan apakah sebuah daerah layak disebut kota wisata atau tidak.
Dari sudut pandang orang luar, ikon “Donggala Kota Wisata” bisa menimbulkan dua kesan sekaligus.
Kesan pertama adalah optimisme. Bahwa Donggala memiliki keberanian menunjukkan identitasnya kepada dunia. Ini penting karena banyak daerah tidak punya karakter visual yang kuat. Donggala setidaknya mulai membangun citra dan rasa percaya diri.
Namun kesan kedua bisa menjadi kritik diam-diam. Sebab semakin besar slogan yang dipasang, semakin besar pula ekspektasi yang lahir. Jika kenyataan belum sejalan, maka ikon itu justru dapat menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah pembangunan pariwisata Donggala masih panjang.
Akhirnya, ikon “Donggala Kota Wisata” sesungguhnya adalah cermin harapan. Ia menjadi pertanda bahwa Donggala ingin dikenal, ingin dikunjungi, dan ingin bangkit melalui sektor wisata.
Tetapi ikon itu juga menantang pemerintah dan masyarakatnya sendiri: Apakah Donggala siap membuktikan tulisan besar itu bukan sekadar pajangan, melainkan kenyataan yang benar-benar dirasakan setiap orang yang datang?
Mungkin anda punya pikiran lain yang bisa menambah wawasan tentang ikon Donggala Kota Wisata. (*)
(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: IST)


