Kadis DP2KBP3A Donggala Klaim Posyandu Berdampak, Tapi Banyak Data Kunci Justru Tak di Tangan

DONGGALA MEDIA – Di tengah peringatan Hari Posyandu Nasional, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Donggala, Moh Milhar Halili menyebut Posyandu telah memberi dampak nyata. Namun, saat ditanya lebih dalam, sejumlah data penting justru tidak tersedia di dinas tersebut.

Kepala DP2KBP3A Donggala menyatakan bahwa secara umum Posyandu di daerahnya memiliki kontribusi signifikan, terutama dalam penurunan stunting, pemantauan tumbuh kembang balita dan peningkatan kesadaran ibu terhadap kesehatan anak.

“Posyandu menjadi ujung tombak dalam percepatan penurunan stunting melalui pemantauan gizi, edukasi ibu, dan intervensi kesehatan dasar,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kader Posyandu aktif menjalankan program Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), termasuk mendukung imunisasi serta edukasi kesehatan keluarga. Ratusan kader disebut terlibat di berbagai wilayah kerja Puskesmas di Donggala.

Namun, di balik klaim tersebut, ia mengakui masih ada tantangan serius. Salah satunya adalah rendahnya kunjungan balita ke Posyandu yang dipicu oleh kurangnya pemahaman ibu serta faktor waktu dan prioritas keluarga.

“Sebagian ibu belum menganggap Posyandu sebagai kebutuhan mendesak,” ungkapnya.

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah mengandalkan pendekatan keluarga melalui program seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), serta intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Selain itu, pencatatan tumbuh kembang mulai diarahkan ke sistem digital.

Di sisi lain, ketika ditanya soal data konkret seperti angka terbaru penurunan stunting, kematian ibu dan anak, hingga besaran anggaran Posyandu, pihak dinas justru menyatakan data tersebut bukan berada di kewenangan mereka.

“Untuk data terbaru lebih tepat ke Dinas Kesehatan. Sementara terkait anggaran, insentif kader, maupun operasional Posyandu bisa dikonfirmasi ke Dinas Sosial dan Dinas PMD,” katanya.

Meski begitu, ia memastikan bahwa seluruh Posyandu di Donggala masih aktif. Hanya saja, terkait tingkat keaktifan rutin bulanan, ketersediaan sarana prasarana, hingga transparansi kinerja, kembali diakui belum memiliki data rinci.

Dalam hal jangkauan layanan, terutama ke wilayah terpencil, DP2KBP3A menyebut strategi dilakukan melalui pemanfaatan Dana Desa, penguatan peran keluarga, forum rembuk stunting, serta koordinasi lintas sektor melalui Musrenbang tematik.

“Fokusnya memastikan layanan gizi dan kesehatan ibu-anak tetap menjangkau wilayah sulit,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Posyandu di Donggala telah terintegrasi dengan program penanganan stunting.

Namun pernyataan menarik justru muncul di akhir wawancara.

Alih-alih menjadikan Hari Posyandu sebagai momentum evaluasi, pihaknya mengaku tidak pernah secara khusus memperingati hari tersebut.

“Di Kabupaten Donggala, kami tidak pernah memperingati Hari Posyandu,” tegasnya.

Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: jika Posyandu diakui berdampak besar, mengapa data kunci justru tersebar di berbagai OPD dan tidak terpusat?

Tanpa data yang terbuka dan terintegrasi, sulit mengukur apakah Posyandu benar-benar menjadi solusi nyata atau sekadar program yang berjalan tanpa arah evaluasi yang jelas. (*)

(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: IST)

  • Related Posts

    Ketua DPRD Donggala Dorong Buku Harmoni dengan Alam Jadi Acuan Kebijakan, Soroti Konflik Regulasi hingga Ekonomi Hijau

    DONGGALA MEDIA…

    Pertama Bertugas Kapolres Aditiya Minta Dukungan Forkopimda Donggala

    DONGGALA MEDIA…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *