Towale Mau Jadi Catwalk Internasional

DONGGALA MEDIA — Kalau selama ini tenun identik dengan acara adat atau sekadar “baju resmi kalau terpaksa”, sepertinya narasi itu akan segera dirombak habis-habisan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Donggala melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif (Disparbudekraf) Donggala lagi mencoba bikin gebrakan: fashion show tenun, tapi versi internasional.

Selama ini ada satu ironi yang diam-diam kita pelihara bahwa kita bangga sama produk lokal, tapi dompet kita seringnya tetap lari ke yang lain. Tenun Donggala, sayangnya, sudah lama hidup di situasi itu. Dipuji iya, dipakai kadang-kadang, dibeli… ya, tergantung momen.

Makanya, rencana Fashion Show Tenun Donggala yang bakal digelar 7 Juli 2026 di Desa Towale ini terasa seperti upaya naik kelas yang cukup serius. Bukan lagi sekadar seremoni budaya, melainkan percobaan menjadikan tenun sebagai produk yang benar-benar punya daya jual.

Towale sendiri bukan dipilih asal. Desa ini dikenal sebagai kampung tenun di Sulawesi Tengah, tempat kain-kain tenun diproduksi.

Yang bikin acara ini agak beda, ada campur tangan Eco Fashion Week Australia (EFWA), sebuah event fashion yang bukan cuman memikirkan gaya, tapi juga bawa isu eco fashion dan slow fashion alias produksi yang tidak ugal-ugalan dan lebih menghargai proses.

Di sisi lain, Tenun Donggala selama ini sering ditempatkan di posisi yang agak sakral seperti warisan budaya, identitas daerah dan segala label megah lainnya. Masalahnya, label itu tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan para penenun. Padahal, kalau mau jujur, ukuran paling sederhana dari keberhasilan sebuah produk itu ya satu: laku atau tidak.

Nah, lewat event ini, Disparbudekraf Donggala secara terang-terangan ingin menggeser posisi tenun dari simbol ke komoditas. Tujuannya biar tidak cuma dibanggakan, tapi juga dibeli. Hal ini jelas memperluas pasar, meningkatkan apresiasi masyarakat, sekaligus mendorong ekonomi kreatif berbasis budaya. Bahasa halusnya begitu. Bahasa lugasnya: tenun harus bisa menghasilkan uang.

Harapan terbesar tentu diarahkan ke pelaku UMKM tenun. Selama ini mereka bekerja dalam ritme yang tidak selalu ramah pasar dengan produksi terbatas, promosi minim dan bergantung pada event-event tertentu.

Kalau fashion show ini berhasil menarik perhatian, pintu pasar bisa terbuka lebih lebar. Tidak cuma lokal, tapi juga nasional, bahkan internasional. Minimal, ada perubahan penting bahwa tenun tidak lagi dianggap barang khusus acara resmi.

Dibawah komando Kepala Dinas (Kadis) Muhammad, Disparbudekraf Donggala turun langsung memfasilitasi kegiatan, koordinasi dengan desainer, sampai promosi lewat media sosial dan media lokal. Karena di zaman sekarang, kualitas saja tidak cukup. Kalau tidak dipromosikan dengan benar, ya tetap saja tenggelam. Dan kita tahu, yang tenggelam biasanya cepat dilupakan.

Satu hal yang cukup krusial dalam kegiatan ini yakni Tenun Donggala akan dikemas lebih modern. Bukan untuk menghilangkan identitasnya, tapi supaya lebih nyambung dengan selera pasar hari ini. Disparbudekraf Donggala sudah memperhitungkan, bahwa sebagus apa pun sebuah produk, kalau tampilannya terasa jauh dari keseharian orang, ya susah masuk. Modernisasi di sini bukan berarti meninggalkan tradisi, tapi mencari cara agar tradisi itu tetap relevan.

Di ujung semua ini, pesan yang ingin disampaikan oleh Kadis Muhammad lewat event ini agar masyarakat, terutama anak muda, mulai mencintai dan menggunakan Tenun Donggala.

Bukan hanya karena “ini budaya kita”, tapi karena memang layak dipakai, layak dibanggakan dan kalau perlu layak dipamerkan. Jadi nanti, kalau Towale benar-benar jadi catwalk internasional, jangan kaget. Bisa jadi, dari desa kecil itu, tenun Donggala mulai menulis ulang nasibnya sendiri.*

(Teks: AULIA AM / Foto: IST / Editor: WAHID AGUS)

  • Related Posts

    • Daerah
    • Juni 4, 2026
    • 77 views
    Pelabuhan Donggala Dinilai Lebih Layak, Ocean Watch Desak Kapal Pelni Segera Berlabuh di Donggala

    DONGGALA MEDIA…

    Revitalisasi 105 Sekolah di Donggala Mulai Bergulir, Disdikpora Fokus Benahi Sarana Pendidikan hingga Daerah Terpencil

    DONGGALA MEDIA…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *