DONGGALA MEDIA — Waktu menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tengah 2026 masih sekitar tujuh bulan. Namun bagi Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Donggala, hitungan itu tidak serta-merta berarti persiapan sudah matang. Justru sebaliknya, ada sejumlah catatan yang masih menggantung, dari soal jadwal hingga urusan paling krusial yaitu anggaran.
Ketua Askab PSSI Donggala, Moh. Edwan, mengatakan pihaknya belum memulai proses seleksi atlet untuk Porprov. Alasannya sederhana, bahwa waktu pelaksanaan menurutnya masih jauh.
“Kalau sekarang kita seleksi, terlalu dini. Ada jeda 4 sampai 7 bulan sebelum pertandingan. Itu akan menambah beban biaya,” kata Ketua Askab Edwan kepada Donggala Media, Senin (13/4/2026).
Ketua Askab Edwan memperkirakan seleksi idealnya dilakukan pada Agustus atau September 2026, setelah peringatan 17 Agustus. Dengan begitu, persiapan bisa lebih fokus tanpa jeda panjang yang berisiko menguras anggaran dan stamina tim.
Namun, persoalan tidak berhenti di soal waktu. Ketua Askab Edwan menyinggung keterlambatan penetapan jadwal dalam “buku biru” PSSI yang hingga kini belum sepenuhnya sinkron. Ia berharap kongres PSSI segera digelar agar kepastian jadwal bisa ditetapkan.
“Kalau jadwal belum jelas, semua juga ikut tertunda,” ujarnya.
Di luar teknis, pengalaman masa lalu menjadi bayang-bayang tersendiri. Ketua Askab Edwan mengingat pelaksanaan Porprov sebelumnya yang dinilainya jauh dari ideal. Saat itu, menurut dia, persoalan anggaran berdampak langsung pada kondisi atlet.
Ia menceritakan, atlet yang sudah dikumpulkan bahkan sempat tidak mendapatkan fasilitas transportasi dan akomodasi sebagaimana dijanjikan. Situasi itu memaksa Askab PSSI Donggala mencari solusi darurat, termasuk mendapat bantuan dari pihak lain agar atlet tetap bisa bertanding.
Dari pengalaman tersebut, Ketua Askab Edwan menyampaikan kritik terbuka kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Donggala. Ia berharap pola lama tidak terulang, terutama praktik yang ia sebut sebagai “balibellang” (re: pandai memutar balik kata, lain diucap disana lain diucap disini).
“Jangan lagi balibellang. Atlet sudah disiapkan, tapi anggarannya tidak jelas. Kasihan atlet, sebelum bertanding psikisnya sudah turun,” katanya.
Karena itu, Ketua Askab Edwan menekankan bahwa kunci utama menghadapi Porprov 2026 bukan hanya pada seleksi pemain, melainkan kepastian dukungan anggaran.
Menurut dia, kesiapan anggaran menjadi fondasi utama jika Donggala ingin berbicara banyak di Porprov 2026. Tanpa dukungan itu, target prestasi berisiko hanya menjadi wacana.
Di sisi lain, ia melihat ada modal positif dari perkembangan sepak bola Donggala dalam beberapa tahun terakhir. Sejak kepengurusan Askab saat ini berjalan pada 2022, sejumlah capaian mulai terlihat, termasuk raihan medali emas di ajang Popda Morowali.
“Sekarang Donggala sudah tiga kali meraih emas dan intensitas pertandingan juga meningkat,” ujarnya.
Untuk Porprov 2026, optimisme itu tetap ada, terutama dengan dukungan kepala daerah. Edwan menyebut Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, sebagai sosok yang memberi perhatian pada sepak bola, termasuk melalui dukungan pada kompetisi lokal.
Meski begitu, ia menegaskan satu hal bahwa proses seleksi atlet harus tetap bersih.
“Kami siapkan atlet terbaik tanpa embel-embel. Tidak ada titipan,” kata Edwan.
Dengan waktu yang terus berjalan, Askab PSSI Donggala kini berada di persimpangan antara harapan dan pengalaman. Persiapan teknis mungkin bisa diatur, tetapi tanpa kepastian sistem dan anggaran, jalan menuju Porprov 2026 masih menyisakan tanda tanya.*
(Teks: AULIA AM / Foto: IST / Editor: WAHID AGUS)


