DONGGALA MEDIA — Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Donggala, Asgaf Umar, memberikan klarifikasi atas polemik anggaran olahraga daerah menyusul pernyataan Ketua Askab PSSI Donggala, Moh. Edwan. Ia menegaskan bahwa pengusulan anggaran KONI Donggala telah dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku.
Menurut Ketua KONI Asgaf, pengajuan anggaran KONI Donggala untuk tahun 2026 telah disampaikan sejak awal 2025 melalui Dinas Pemuda dan Olahraga. Skema tersebut, kata dia, mengikuti aturan bahwa hibah kepada KONI tidak disalurkan langsung dari pemerintah daerah, melainkan melalui organisasi perangkat daerah terkait.
“Pengusulan sudah kami lakukan sejak 6 Januari 2025. Selanjutnya mekanisme berjalan di dinas hingga proses evaluasi oleh tim terkait, termasuk Kesra, sebelum sampai ke kepala daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pada tahap selanjutnya, proses penganggaran sepenuhnya berada dalam kewenangan pemerintah daerah bersama DPRD melalui pembahasan anggaran hibah. Namun hingga saat ini, kata dia, KONI Donggala belum menerima alokasi anggaran untuk tahun berjalan.
Ketua KONI Asgaf menyebut kondisi tersebut tidak terlepas dari situasi keuangan negara yang berdampak pada daerah, termasuk kebijakan efisiensi anggaran. Meski demikian, ia mempertanyakan apakah usulan KONI Donggala turut menjadi bagian dari pembahasan dalam proses penganggaran tersebut atau tidak.
“Sampai saat ini posisi kami masih nol rupiah. Pertanyaannya, apakah KONI masuk dalam pembahasan anggaran hibah atau tidak,” katanya.
Ketua KONI Asgaf blak-blakan mengutarakan bahwa keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam menjalankan program pembinaan olahraga, termasuk persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026. Sebagai organisasi yang bergantung pada hibah pemerintah daerah, KONI, menurut dia, tidak memiliki sumber pendanaan alternatif yang memadai.
Dalam penjelasannya, ia juga menyinggung pelaksanaan Porprov tahun sebelumnya, di mana KONI Donggala hanya memperoleh dukungan anggaran sejumlah Rp200 juta untuk 17 cabang olahraga (cabor). Kondisi tersebut berdampak pada selektivitas cabor yang diberangkatkan, sehingga yang diberangkatkan adalah cabor dengan potensi raihan medali tertinggi.
Ia turut menilai koordinasi dengan sejumlah cabor, termasuk sepak bola pada saat itu belum berjalan optimal. KONI Donggala, kata dia, telah beberapa kali mengundang pihak terkait untuk memaparkan program, namun tidak seluruhnya merespons.
Ke depan, Ketua KONI Asgaf menyatakan KONI Donggala akan tetap menyiapkan langkah strategis dengan memprioritaskan cabor yang berpotensi meraih medali dan menyesuaikan dengan kondisi anggaran yang tersedia. Ia menyebut ada 11 cabang unggulan yang telah dipetakan melalui rapat koordinasi sebelumnya.
“Kami tetap menyiapkan skenario. Jika anggaran tersedia sesuai usulan, target perolehan medali dan peningkatan peringkat bisa dicapai,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, tanpa kepastian anggaran hingga Mei 2026 ini, risiko yang dihadapi tidak hanya pada keikutsertaan dalam Porprov 2026, tetapi juga potensi berpindahnya atlet ke daerah lain.
“Kekhawatiran kami, jika tidak ada kepastian, atlet bisa direkrut daerah lain yang memiliki dukungan anggaran lebih baik,” kata Ketua KONI Asgaf.
Di ujung penjelasannya, Ketua KONI Asgaf seperti ingin mengingatkan satu hal sederhana yang sering dilupakan bahwa KONI itu bukan mesin ajaib. KONI bisa merancang program, memetakan potensi, bahkan bermimpi besar. Tapi tanpa anggaran, semua itu tetap saja rencana di atas kertas.
Sisanya? Tinggal kita mau jujur atau tidak melihat kenyataan ini.*
(Teks: AULIA AM / Foto: IST / Editor: WAHID AGUS)


