Yasin Lataka Naik Panggung, DPRD Donggala Diuji Lagi

DONGGALA MEDIA — Ada yang baru di kursi panas DPRD Donggala. Namanya Moh. Yasin Lataka. Bukan pemain baru, tapi kali ini resmi naik level menjadi Ketua DPRD Donggala untuk sisa masa jabatan 2024–2029.

Pengukuhan itu berlangsung dalam rapat paripurna, Senin (13/4/2026), di ruang rapat utama DPRD Donggala. Agenda sakral ini dipimpin Wakil Ketua I DPRD Donggala, Kevlin Soputra yang membuka sidang dengan nada formal, tapi suasananya tetap terasa politik banget.

Seperti biasa, sebelum palu diketuk sah, ada ritual penting yaitu pembacaan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah oleh Sekretaris DPRD, Syaifullah Malonda. Isinya jelas bahwa Yasin Lataka resmi jadi nahkoda baru lembaga legislatif Donggala.

Prosesi sumpah pun digelar khidmat. Ketua Pengadilan Negeri Donggala memimpin pengambilan sumpah, sementara Al-Qur’an dipegang petugas dari Kementerian Agama.

Dalam sambutan perdananya, Yasin tidak banyak basa-basi. Ia langsung bicara soal mimpi bersama—kalimat yang sudah sering kita dengar, tapi tetap relevan kalau benar-benar dikerjakan.

“Kepercayaan ini adalah tanggung jawab besar untuk mewujudkan mimpi bersama dalam membangun Donggala yang lebih baik,” ujarnya.

Bahasa normatif? Iya. Tapi di panggung politik lokal, justru dari kalimat-kalimat seperti ini publik nanti menagih bukti.

Dari kubu eksekutif, Wakil Bupati (Wabup) Donggala, Taufik M. Burhan, juga ikut memberi sinyal agar jangan jalan sendiri-sendiri. Ia menekankan pentingnya “chemistry” antara legislatif dan pemerintah daerah karena tanpa itu program pembangunan sering cuma jadi wacana rapat.

Menariknya, Wabup Taufik juga sempat memberi kredit ke mantan Ketua DPRD Donggala, Moh. Taufik. Katanya, selama sekitar 1,5 tahun menjabat, ada kontribusi nyata, terutama dalam menekan angka kemiskinan. Sebuah pujian yang sekaligus jadi standar minimal bagi ketua baru: kalau bisa, ya harus lebih.

Sementara itu, pesan dari Gubernur Sulawesi Tengah yang dibacakan Asisten Pemerintahan dan Kesra, Farid Rifai Yotolembah, terdengar seperti pengingat halus tapi tegas agar jangan sampai pergantian kursi bikin kerja DPRD macet.

Fungsi pengawasan, penganggaran dan legislasi harus tetap jalan. Tidak boleh kendor hanya karena ada adaptasi pimpinan baru. Bahasa resminya begitu. Terjemahan bebasnya: rakyat tidak peduli siapa ketuanya, yang penting kerjanya.

Rapat paripurna ini juga dihadiri jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, hingga nama-nama lama seperti mantan Bupati Donggala periode 2006–2013, Habir Ponulele. Suasananya lengkap ada formalitas, ada nostalgia, ada juga harapan.

Acara ditutup dengan ramah tamah. Jabat tangan, senyum dan foto-foto—ritual wajib setiap pergantian jabatan. Yasin Lataka pun berdiri di tengah kerumunan, menerima ucapan selamat, didampingi keluarga, termasuk yang datang jauh-jauh dari Balaesang Tanjung.

Tapi setelah semua salam selesai, satu pertanyaan sederhana tetap menggantung:
apakah kursi baru ini akan melahirkan gebrakan atau sekadar melanjutkan rutinitas lama?

Waktu yang akan menjawab. Masyarakat Donggala, seperti biasa, menunggu.*

(Teks: AULIA AM / Foto: IST / Editor: WAHID AGUS)

Related Posts

Petani Pembibit di Donggala Dorong Kemandirian Bibit Buah Bersertifikat

DONGGALA MEDIA…

Dua Harapan dari Banawa Gugur, Sepak Bola Donggala Ciptakan Luka

DONGGALA MEDIA…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *