Integrasi Perencanaan dan Penguatan Ekosistem Pariwisata Sulteng Belum Optimal

Melihat Sulawesi Tengah dari Kabupaten Donggala

DONGGALA MEDIA — Kalau ada satu hal yang disepakati tanpa perlu rapat panjang, itu adalah Kabupaten Donggala tidak kekurangan bahan untuk jadi destinasi wisata kelas atas. Yang kurang dan ini diakui sendiri oleh Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Donggala, Muhammad, justru cara meraciknya.

Dalam wawancara memperingati HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah yang jatuh pada 13 April 2026, Kadis Muhammad memilih jujur sejak awal. Tidak pakai basa-basi, tidak juga sibuk menyalahkan.

“Potensi kita luar biasa. Dari pesisir sampai perbukitan, dari laut sampai budaya, semua ada,” kira-kira begitu nadanya.

Dan memang bukan klaim kosong. Nama-nama seperti Tanjung Karang, Boneoge, hingga Pusat Laut bukan pemain baru di peta wisata lokal. Wisata ini sudah lama jadi “jualan utama” meski sering dijual dengan cara yang itu-itu saja.

Belum lagi kawasan barat Donggala yang menyimpan bentang perbukitan dan jalur budaya dari Sindue sampai Sojol. Kombinasi yang kalau dipikir-pikir, sudah seperti paket lengkap: ada laut, ada lanskap, ada cerita.

Masalahnya paket ini belum pernah benar-benar dibungkus dengan rapi.

Salah satu isu yang sering muncul adalah anggapan bahwa Pemerintah Provinsi kurang memberi perhatian ke Donggala. Tapi Kadis Muhammad tampaknya tidak terlalu tertarik memainkan narasi itu. Menurutnya, persoalannya bukan soal siapa yang tidak peduli, tapi siapa yang belum saling terhubung.

“Ini lebih ke integrasi yang belum optimal,” kira-kira begitu intinya.

Bahasa sederhananya adalah semua sudah bergerak, tapi belum bergerak bersama. Padahal, pariwisata hari ini tidak bisa lagi dikelola dengan logika sektoral. Tidak cukup hanya Dinas Pariwisata kerja sendiri, lalu berharap wisatawan datang dengan sendirinya seperti jodoh yang ditakdirkan.

Harus ada grand design arah besar yang jelas. Harus ada konektivitas antar destinasi, supaya wisatawan tidak merasa sedang lompat dari satu titik ke titik lain tanpa cerita. Harus ada amenitas (fasilitas) dan aksesibilitas (jalan, transportasi) yang masuk akal. Dan tentu saja, harus ada kolaborasi lintas sektor dari perhubungan, UMKM, sampai investasi.

Kalau semua itu tidak terjadi, hasilnya ya seperti sekarang: geliatnya ada, tapi rasanya masih acak-acakan.

Kadis Muhammad tampaknya sadar betul bahwa Donggala tidak bisa terus mengandalkan “spot wisata”. Karena spot itu bagus untuk foto. Tapi kawasan, itu penting untuk pengalaman.

Makanya, salah satu dorongan strategis yang ia sampaikan adalah membangun konsep kawasan unggulan terpadu. Bayangannya sederhana tapi masuk akal: koridor Tanjung Karang – Boneoge – Pusat Laut dijadikan satu napas sebagai pusat wisata bahari.

Sementara di sisi lain, jalur Sindue sampai Sojol diarahkan menjadi kawasan wisata budaya dan konservasi.

Artinya, Donggala tidak lagi menjual titik, tapi perjalanan. Tidak lagi menawarkan lokasi, tapi pengalaman, dan di era wisata sekarang, itu bukan sekadar penting. Itu wajib.

Dalam wawancara ini, Kadis Muhammad juga menyebut penguatan branding sebagai salah satu kunci. Salah satunya lewat konsep “Green & Blue Tourism Donggala”.

Kedengarannya keren. Dan memang seharusnya keren.

Tapi seperti biasa, tantangan terbesar bukan di konsep, melainkan di konsistensi.

Branding bukan cuma soal slogan yang enak dibaca di baliho. Branding adalah janji, dan janji itu harus dibayar.

Kalau bilang “green”, berarti lingkungan harus dijaga. Kalau bilang “blue”, laut harus bersih, bukan penuh sampah plastik yang lebih setia daripada wisatawan.

Hal lain yang disorot dan tidak kalah penting adalah sinkronisasi dengan Pemerintah Provinsi. Ini terdengar klise, tapi justru di situlah masalahnya: terlalu sering disebut, terlalu jarang benar-benar terjadi.

Tanpa sinkronisasi, menurut Kadis Muhammad, pembangunan jadi tambal sulam. Jalan dibangun di satu sisi, tapi akses ke destinasi masih menyulitkan. Promosi jalan sendiri, tapi fasilitas belum siap.

Kadis Muhammad mendorong agar program kabupaten, provinsi hingga pusat, terutama bidang pariwisata, bisa benar-benar sejalan. Supaya intervensi pembangunan tidak hanya terasa, tapi juga berkelanjutan.

Satu hal yang menarik dari wawancara ini adalah penekanan pada keterlibatan masyarakat. Kadis Muhammad menyadari bahwa pariwisata yang sukses bukan yang ramai di Instagram, tapi yang berdampak di dapur warga.

Investasi penting, iya. Tapi keterlibatan masyarakat jauh lebih penting. Dari pengelolaan homestay, kuliner lokal, sampai jasa wisata, semua harus punya ruang. Kalau tidak, pariwisata hanya akan jadi tontonan. Bukan penghidupan.

Di akhir wawancara, Kadis Muhammad tetap optimis. Optimis yang bukan tanpa alasan.

Dengan semua potensi yang dimiliki, Donggala memang punya peluang besar untuk jadi ikon pariwisata di Sulawesi Tengah, bahkan di kawasan timur Indonesia.

Tapi seperti semua daerah yang “punya potensi besar”, Donggala juga menghadapi risiko klasik yaitu terlalu lama nyaman dengan potensi tanpa serius mengeksekusi.

Komitmen bersama antara kabupaten, provinsi dan pusat jadi kata kunci yang terus diulang. Dan mungkin memang harus diulang, sampai benar-benar dijalankan karena kalau tidak, Donggala akan tetap jadi tempat yang sering dipuji tapi jarang diprioritaskan.

Di momen menyambut ulang tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah ini, mungkin itu refleksi paling jujur yang bisa diambil: punya potensi itu penting, tapi tahu cara mengelolanya, itu yang menentukan masa depan.*

(Teks: Aulia AM / Foto: IST / Editor: WAHID AGUS)

Related Posts

Petani Pembibit di Donggala Dorong Kemandirian Bibit Buah Bersertifikat

DONGGALA MEDIA…

Dua Harapan dari Banawa Gugur, Sepak Bola Donggala Ciptakan Luka

DONGGALA MEDIA…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *