DONGGALA MEDIA – Libur panjang di Kabupaten Donggala selalu punya dua wajah. Wajah pertama adalah yang ada di foto-foto Instagram: laut biru, bukit hijau, kelapa melambai dan caption “healing dulu bosku”. Wajah kedua biasanya muncul setelah motor berhenti dan seseorang datang sambil berkata, “parkir, dua puluh ribu.”
Beberapa hari terakhir, linimasa Facebook warga Donggala ramai oleh cerita semacam itu. Salah satunya datang dari seorang warganet yang mengaku kaget ketika berkunjung ke Pantai Enu. Ia mengira hanya akan menikmati pantai yang kebetulan berada di pinggir jalan dengan pemandangan yang bagus. Ternyata, begitu turun dari motor, ada tarif parkir Rp20 ribu dan yang bikin makin kaget, hitungannya per orang, bukan per kendaraan.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin bukan masalah besar. Tapi bagi wisatawan lokal yang datang dengan konsep liburan sederhana seperti bawa motor, bawa teman, bawa bekal, dua puluh ribu per kepala bisa terasa seperti tiket konser kecil-kecilan.
Padahal, menurut cerita warga, pantai itu bukan kawasan wisata resmi dengan gerbang tiket dan loket karcis. Pantai itu lebih mirip pantai yang “kebetulan indah”. Jenis pantai yang biasanya cuma butuh satu hal yakni berhenti sebentar, duduk, lalu bilang dalam hati, “oh begini rasanya hidup tenang.”
Namun rupanya, ketenangan juga bisa punya tarif.
Fenomena pungutan seperti ini bukan cerita baru di tempat-tempat wisata lokal. Kadang muncul dari inisiatif warga yang merasa ikut menjaga kawasan, kadang juga sekadar spontanitas ekonomi musiman: ketika libur datang, rezeki juga harus ikut datang.
Menariknya, di waktu yang hampir bersamaan, pemerintah kecamatan juga sedang mencoba menertibkan urusan yang mirip-mirip.
Lewat sebuah surat edaran dari Kecamatan Dampelas, pemerintah setempat menegaskan bahwa selama suasana Hari Raya Nyepi dan Idulfitri, tidak boleh ada pungutan dalam bentuk apa pun di kawasan wisata Bambahano. Kalau ada yang nekat menarik biaya, urusannya bukan lagi sekadar debat di Facebook tapi bisa sampai ke polisi dan koramil.
Surat itu juga punya pesan lain yang cukup khas suasana liburan daerah yaitu larangan knalpot bogar. Motor yang masih keras suaranya, kalau kena razia, bisa “liburan” dulu di kantor polisi sampai masa lebaran selesai.
Di satu sisi, ini menunjukkan ada upaya menjaga suasana libur tetap nyaman. Bayangkan saja kalau wisatawan datang mencari suara ombak tapi malah dapat remix knalpot balap.
Namun di sisi lain, cerita dari media sosial menunjukkan bahwa urusan wisata di Donggala masih punya banyak cerita kecil yang belum selesai. Antara niat warga mencari tambahan penghasilan dan harapan wisatawan untuk liburan murah meriah.
Dan di tengah semua itu, Donggala tetap seperti biasanya: lautnya masih indah, bukitnya masih hijau dan orang-orang masih datang meski kadang sambil bertanya dulu sebelum turun dari motor:
“Ini parkirnya berapa?”
(Teks: AULIA AM / Foto: IST / Editor: WAHID AGUS)


