Lebih Setahun Setelah Diluncurkan, Kamus Bahasa Dampelas Belum Masuk Sekolah di Donggala

DONGGALA MEDIA — Ada hal-hal yang tampaknya mudah dilakukan pemerintah: bikin acara, pasang spanduk, foto bersama, lalu unggah ke media sosial. Yang agak sulit biasanya adalah bagian setelahnya.

Misalnya memastikan sebuah bahasa daerah benar-benar hidup di sekolah.

Sudah lebih dari setahun sejak Kamus Bergambar Bahasa Dampelas diluncurkan, tetapi upaya agar buku tersebut masuk ke lingkungan pendidikan di Kecamatan Dampelas masih belum menemukan bentuk kebijakan yang konkret.

Padahal, perjalanan menuju peluncuran buku itu sendiri sudah dimulai jauh sebelumnya.

Pada Senin, 21 April 2025, Opick Delian Alindra, S.H., bertemu Wakil Bupati Donggala Taufik M. Burhan dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Donggala H. Kasmuddin, S.S., M.M. Audiensi berlangsung di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (re: sebelum saat ini telah berganti nama menjadi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Topiknya bukan perkara yang neko-neko, yakni persiapan peluncuran Kamus Bergambar Bahasa Dampelas.

Sebulan kemudian, tepatnya 31 Mei 2025, buku tersebut diluncurkan di Desa Sabang. Sekretaris Disdikpora Donggala, para guru, serta ratusan masyarakat hadir dalam kegiatan itu.

Sampai di sini, ceritanya terdengar seperti kisah sukses.

Buku dibuat.
Buku diluncurkan.
Pemerintah hadir.
Guru hadir.
Masyarakat hadir.

Tinggal satu pertanyaan kecil yang ternyata tidak kecil-kecil amat: setelah launching, lalu apa?

Setelah Seremoni, Ternyata Jalan Masih Panjang

Sejak peluncuran tersebut, berbagai pintu sudah diketuk.

Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah pernah ditemui. Bupati Donggala ditemui. Camat Dampelas ditemui. Kepala Dinas Perpustakaan Donggala ditemui. Sekretaris Daerah Donggala ditemui. Korwil Dikjar Wilayah Dampelas juga ditemui.

Anggota DPRD Dapil IV Donggala, pihak Balai Bahasa Provinsi, Ketua Komisi I DPRD Donggala, Ketua DPRD Donggala, sampai pihak Disdikpora pun sudah ditemui.

Misi pertemuannya pun konsisten: bagaimana Kamus Bergambar Bahasa Dampelas bisa masuk ke lingkungan pendidikan dan digunakan secara nyata oleh sekolah-sekolah di Kecamatan Dampelas.

Sayangnya, sampai sekarang belum ada hasil yang benar-benar konkret.

Belum ada regulasi atau kebijakan yang memberikan kepastian.

Belum ada pengadaan buku untuk kemudian didistribusikan ke sekolah-sekolah.

Jadi, kalau kita mau jujur, posisi buku itu sekarang agak mirip tamu yang sudah datang, sudah disambut, sudah difoto bersama, tetapi belum diberi kamar.

Guru yang Malah Bergerak Duluan dalam Keterbatasan

Di tengah belum jelasnya kebijakan tersebut, justru para guru yang bergerak.

Sebagian guru mengadakan buku secara satuan untuk kemudian digunakan dalam pembelajaran di kelas.

Ini menarik.

Sebab biasanya kita suka mendengar bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Namun ketika sampai pada urusan yang paling sederhana, misalnya menyediakan bahan ajar, yang bergerak justru orang-orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan murid.

Di jenjang SMA, sejumlah pihak sekolah juga ikut membersamai upaya pelestarian Bahasa Dampelas, meski pendidikan tingkat tersebut merupakan kewenangan pemerintah provinsi.

Artinya, kemauan sebenarnya ada.
Guru mau. Sekolah mau. Masyarakat mau.

Yang belum jelas adalah kapan kemauan tersebut mendapat bentuk kebijakan yang bisa membuat semuanya berjalan secara sistematis.

Sebab bahasa daerah tidak mungkin terus diselamatkan dengan cara patungan, beli buku satu-satu, lalu berharap ada keajaiban.

Dampelas Bukan Sekadar Nama Kecamatan

Ada satu hal yang agaknya perlu diingat: Dampelas memiliki identitas etnis dan kebudayaannya sendiri. Karena itu, Bahasa Dampelas bukan sekadar kumpulan kata yang kebetulan digunakan oleh masyarakat di sebuah wilayah.

Bahasa adalah identitas.

Ia menyimpan cara masyarakat menyebut dunia, memahami hubungan sosial, mengenali lingkungan, dan mewariskan pengalaman dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika bahasa tidak lagi digunakan oleh anak-anak, tidak diajarkan secara terstruktur, dan tidak mendapatkan ruang dalam pendidikan, yang hilang pada akhirnya bukan cuma kosakata.

Yang perlahan hilang adalah bagian dari identitas masyarakat.

Karena itu, kepedulian terhadap Bahasa Dampelas semestinya tidak berhenti pada kalimat-kalimat manis tentang budaya dan kearifan lokal.

Masyarakat sudah terlalu sering mendengar kalimat semacam itu.

Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi surga telinga.
Yang dibutuhkan adalah kebijakan.

Jangan Sampai Budaya Lokal Jadi Figuran di Rumah Sendiri

Ada persoalan lain yang juga patut diperbincangkan.

Dalam sejumlah momentum perlombaan atau kegiatan yang dilaksanakan pemerintah daerah di wilayah Dampelas, budaya lokal Dampelas tidak selalu menjadi bagian yang diangkat. Justru budaya dan etnis dari wilayah lain yang tampil.

Tentu tidak ada masalah mengenalkan budaya lain. Keragaman adalah sesuatu yang patut dirayakan.
Tetapi kalau sebuah kegiatan digelar di wilayah Dampelas, rasanya wajar jika budaya Dampelas memperoleh ruang yang layak.

Jangan sampai masyarakat Dampelas akhirnya mengalami situasi yang agak absurd: tinggal di rumah sendiri, tetapi budaya sendiri malah menjadi penonton.

Kalau pemerintah memang serius berbicara soal kearifan lokal, mestinya keberpihakan itu terlihat dalam program. Bukan cuma terdengar dalam sambutan.

Jangan Menunggu Bahasa Hilang Baru Sibuk Mendokumentasikan

Bahasa tidak biasanya mati dengan bunyi ledakan. Ia mati pelan-pelan.

Hari ini anak-anak mulai jarang menggunakan. Besok orang tua semakin jarang mengajarkan. Lusa sekolah tidak punya bahan ajar. Setelah itu generasi berikutnya hanya mengenal bahasanya dari cerita orang-orang yang lebih tua.

Kemudian kita panik.

Seminar digelar.

Diskusi dilakukan.

Spanduk dipasang.

Lalu muncul kalimat sakral: “Bahasa daerah harus kita lestarikan.”

Masalahnya, pada titik itu mungkin sudah terlambat.

Karena itu, Kamus Bergambar Bahasa Dampelas memang bukan obat untuk seluruh persoalan pelestarian bahasa. Namun buku tersebut bisa menjadi salah satu alat bantu agar anak-anak mengenal bahasa daerahnya melalui proses pendidikan.

Sayang kalau buku itu berhenti sebagai benda yang pernah diluncurkan.
Sebab launching bukan garis finis.

Launching seharusnya menjadi garis start.

Pemerintah Tidak Harus Menunggu Semua Sempurna

Yang dibutuhkan sebenarnya tidak rumit-rumit amat.

Pemerintah daerah dapat mulai menyusun langkah yang jelas: bagaimana posisi Bahasa Dampelas dalam pendidikan, bagaimana bahan ajarnya disediakan, bagaimana buku didistribusikan, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana pelaksanaannya dilakukan secara berkelanjutan sesuai kewenangan masing-masing.

Kalau persoalannya regulasi, mari dibicarakan.

Kalau kewenangannya berada di pemerintah provinsi, mari dikoordinasikan.

Kalau dibutuhkan kajian kebahasaan, libatkan ahli.

Kalau dibutuhkan masyarakat, libatkan masyarakat.

Kalau guru sudah bergerak, jangan biarkan mereka berjalan sendirian.

Sebab agak lucu jika semua pihak sepakat bahwa bahasa daerah penting, tetapi setelah rapat selesai, bahasa tersebut kembali pulang sendirian.

Pada Akhirnya, Anak-anak Dampelas yang Menentukan

Perdebatan tentang pelestarian Bahasa Dampelas pada akhirnya bukan soal siapa yang paling berjasa.

Bukan pula soal siapa yang paling banyak menghadiri seremoni.

Pertanyaan paling penting justru sederhana: apakah anak-anak Dampelas kelak masih mengenal bahasa daerahnya?

Apakah mereka masih bisa mengucapkannya?

Apakah mereka memahami maknanya?

Apakah mereka merasa bangga menggunakannya?

Dan apakah sekolah menjadi salah satu tempat yang membantu mereka mengenal bahasa tersebut?

Kalau jawabannya iya, berarti ada sesuatu yang sedang kita selamatkan.
Kalau jawabannya tidak, mungkin selama ini kita hanya sibuk menyelamatkan acara peluncurannya.

Sudah lebih dari satu tahun Kamus Bergambar Bahasa Dampelas berjalan dalam perjuangan untuk mendapatkan ruang di sekolah.

Buku sudah ada.

Guru sudah bergerak.

Masyarakat sudah mendukung.

Berbagai pihak juga sudah ditemui.

Sekarang tinggal menunggu satu hal yang jauh lebih penting daripada seremoni: keputusan konkret.

Sebab Bahasa Dampelas tidak membutuhkan lebih banyak tepuk tangan.
Ia membutuhkan ruang di rumah sendiri, ruang di masyarakat dan yang paling penting, ruang di kelas.

Jangan sampai suatu hari nanti kita begitu sibuk mencari cara untuk menghidupkan kembali Bahasa Dampelas, padahal hari ini kita masih punya kesempatan untuk menjaganya tetap hidup. (*)

Oleh: Opick Delian Alindra, S.H., CPS
Penulis Kamus Bergambar Bahasa Dampelas

(Editor: WAHID AGUS / Foto: Doc. OPICK DELIAN ALINDRA)

  • Related Posts

    Paskibraka Donggala 2026 Dikukuhkan, 35 Siswa Terpilih Siap Kibarkan Bendera Merah Putih di HUT RI ke-81
    • Agustus 14, 2026

    DONGGALA MEDIA—…

    Continue reading
    Ketika Siswa SMP Disuruh Speaking, Tapi “My Name Is” Saja Masih Grogi
    • Agustus 14, 2026

    DONGGALA MEDIA…

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *