DONGGALA MEDIA – Donggala bukanlah sekadar nama sebuah kabupaten di pesisir Sulawesi Tengah. Ia adalah sebuah sejarah panjang yang lahir dari laut, tumbuh dari pelabuhan, dan membesarkan banyak daerah yang kini berdiri megah sebagai wilayah otonom.
Dahulu, Donggala adalah wilayah yang sangat luas. Dalam pelukannya ada Buol, Tolitoli, Palu, Sigi, hingga Parigi Moutong.
Dari pegunungan hingga lautan, dari Selat Makassar hingga Teluk Tomini, semuanya pernah berada dalam satu rumah besar bernama Donggala.
Namun seperti seorang ibu yang ikhlas melepas anak-anaknya tumbuh dewasa, Donggala satu per satu merelakan wilayahnya berdiri sendiri.
Buol dan Tolitoli pergi membentuk kabupaten baru. Palu tumbuh menjadi kota dan ibu kota provinsi. Parigi Moutong lahir sebagai daerah otonom. Sigi pun kemudian berdiri sendiri.
Kini yang tersisa hanyalah wilayah Banawa dan Pantai Barat.
Tubuh Donggala semakin mengecil, tetapi hatinya tetap besar.
Sejarah mencatat, jauh sebelum republik ini berdiri, Pelabuhan Donggala telah menjadi pintu gerbang perdagangan dunia.
Kapal-kapal asing dari Portugis, Belanda, dan berbagai bangsa pernah berlabuh di sana. Laut Donggala menjadi saksi lalu lintas rempah-rempah, hasil bumi, dan peradaban yang datang silih berganti.
Donggala hidup karena pelabuhan.
Donggala dikenal karena pelabuhan.
Donggala tumbuh karena pelabuhan.
Namun pada tahun 1978, sebuah keputusan besar mengubah arah sejarah.
Aktivitas pelabuhan dipindahkan ke Pantoloan, Palu.
Saat itu tidak hanya kapal yang berpindah.
Harapan juga ikut berpindah.
Ribuan buruh pelabuhan harus meninggalkan tempat kerja yang telah mereka kenal puluhan tahun.
Sopir-sopir angkutan harus mengikuti arus aktivitas ekonomi yang bergeser. Para pengusaha kecil kehilangan denyut perdagangan yang selama ini menghidupi keluarga mereka.
Banyak pegawai dan pekerja yang terpaksa memilih antara pekerjaan atau keluarga.
Ada yang harus berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat anak-anaknya sudah tertidur.
Ada yang hanya bisa bertemu istri dan anak seminggu sekali.
Ada yang menyaksikan tumbuh kembang anaknya dari kejauhan.
Air mata tidak pernah tercatat dalam dokumen negara.
Kesedihan tidak pernah masuk dalam statistik pembangunan.
Tetapi masyarakat Banawa merasakannya.
Mereka menangis.
Mereka pilu.
Mereka perih.
Mereka kehilangan denyut kehidupan yang selama puluhan tahun menjadi nadi kota tua Donggala.
Waktu berlalu.
Empat puluh tahun lebih berlalu.
Masyarakat Donggala mencoba berdamai dengan kenyataan.
Mereka belajar menerima bahwa pelabuhan yang dahulu membesarkan mereka kini berkembang di tempat lain.
Namun ketika pemerintah pusat menetapkan kembali wilayah aktivitas kepelabuhanan di Teluk Palu, harapan lama yang hampir padam perlahan menyala kembali.
Masyarakat Donggala mulai percaya bahwa sejarah belum selesai.
Bahwa pelabuhan yang melahirkan Donggala tidak seharusnya dilupakan.
Bahwa Donggala berhak mendapatkan kembali sebagian dari denyut kehidupan yang pernah direnggut darinya.
Tetapi di saat harapan itu tumbuh, polemik kembali muncul.
Kali ini tentang trayek kapal penumpang Pelni.
Terjadi tarik-menarik kepentingan.
Perdebatan mengeras.
Argumentasi saling bertabrakan.
Dan lagi-lagi, Donggala merasa sedang menghadapi pertarungan yang tidak seimbang.
Seolah seorang ibu tua yang telah melahirkan banyak anak, kini harus berhadapan dengan salah satu anak yang dahulu dibesarkannya sendiri.
Anak itu bernama Kota Palu.
Donggala memandang ke arah teluk dengan mata yang mulai renta.
Ia melihat kota yang dahulu pernah menjadi bagian dari dirinya tumbuh besar, kaya, dan kuat.
Namun di saat yang sama, Donggala merasa suaranya semakin kecil didengar.
Lebih menyakitkan lagi, kecurigaan mulai tumbuh dari dalam rumahnya sendiri.
Seperti duri dalam daging.
Ada sebagian tokoh dan politisi dari wilayah Pantai Barat yang letaknya lebih dekat ke Pantoloan, yang dianggap lebih menghendaki kapal Pelni tetap berada di sana.
Bagi sebagian masyarakat Banawa, ini bukan sekadar soal pelabuhan.
Bukan sekadar soal dermaga.
Bukan sekadar soal kapal.
Ini soal harga diri.
Ini soal sejarah.
Ini soal masa depan anak-anak mereka.
Mereka bertanya dalam hati, mengapa ketika kesempatan itu datang, justru ada saudara sendiri yang seolah menariknya kembali?
Mengapa ketika Donggala mencoba berdiri, ada tangan-tangan yang justru menahannya untuk tetap berlutut?
Malam demi malam, ombak Teluk Palu terus memecah kesunyian di pesisir Donggala.
Dermaga tua itu masih berdiri.
Laut yang sama masih berhembus.
Angin yang sama masih menyapa.
Tetapi suasananya berbeda.
Donggala seperti seorang ibu yang duduk sendiri di beranda rumah tuanya.
Ia melihat anak-anak yang dahulu lahir dari rahim sejarahnya kini hidup lebih mapan.
Sementara dirinya terus berjuang menjaga sisa-sisa martabat yang masih dimiliki.
Dan di antara deburan ombak Selat Makassar, seakan terdengar suara lirih yang keluar dari hati masyarakat Donggala:
“Kami tidak meminta milik orang lain.”
“Kami hanya ingin sejarah kami dihormati.”
“Kami hanya ingin hak kami diperhatikan.”
“Sebab Donggala ada karena pelabuhan.”
“Dan jangan biarkan ibu tua ini kehilangan untuk kedua kalinya.” (*)
(Teks/Editor: WAHID AGUS / Foto: AI)


